LAPORAN DARI WASHINGTON: Jonan Minta Chevron Kerjakan IDD, Negosiasi Rokan Kemudian

Intinya, saya mendesak Chevron agar segera mengerjakan proyek ini sebelum batas waktu berakhir pada 2020. Setelah IDD beres, baru kita bisa bicara [perpanjangan] pengelolaan Blok Rokan, tutur Jonan.
Hery Trianto | 29 Juni 2018 09:29 WIB
Menteri ESDM Ignasius Jonan menjadi pembicara utama dalam World Gas Conference (WGC) bertema What Next for The Asia Pacific Gas Market di Washington DC, Rabu (27/6/2018) siang. (Hery Trianto - Bisnis).

Bisnis.com, WASHINGTON — Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan menemui Chairman & CEO Chevron Michael K. Wirth untuk mendesak penyelesaian proyek migas laut dalam di selat Makassar yang sudah terkatung-katung lama.

Bahkan Jonan mengajak sejumlah pejabat seperti Dirjen Migas Djoko Siswanto dan Wakil Kepala SKK Migas Sukarlan, Plt Dirut PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati dan pengusaha minyak Arifin Panigoro.

Pertamina adalah mitra minoritas Chevron saat memenangkan tender blok gas bumi laut dalam itu (Indonesia Deepwater Development Gendalo-Gehem) pada 2009 bersama Eni. Adapun Arifin, melalui Medco Energy Tbk pernah mengambil alih blok migas milik Chevron.

Pertemuan di kantor Chevron, Washington tersebut terjadi pada Rabu (27/6) atau Kamis dinihari waktu Jakarta, berlangsung tertutup. Dari pihak Chevron hadir juga Yanto Sianipar, Senior Vice President Policy Government and Public Affairs Chevron Indonesia Yanto Sianipar.

Semula, Jonan melakukan pembicaraan bilateral dengan pihak Chevron. Selanjutnya dia mengundang Arifin dan Nicke untuk berbicara dengan Chevron secara B to B.

Jonan baru bersedia membeberkan hasil pertemuan dalam penerbangan kembali ke Jakarta Kamis (28/6) siang atau Jumat dinihari waktu Indonesia barat.

“Intinya, saya mendesak Chevron agar segera mengerjakan proyek ini sebelum batas waktu berakhir pada 2020. Setelah IDD beres, baru kita bisa bicara [perpanjangan] pengelolaan Blok Rokan,” tutur Jonan.

Blok Rokan merupakan proyek migas terbesar yang dikerjakan Chevron dengan produksi 200.000 barrel perhari dan berakhir masa kontraknya pada 2020. Pemerintah punya opsi untuk terminasi proyek ini atau mengembalikan kepad Chevron.

Menurut Jonan, Proyek IDD di Selat Makassar sudah terlalu lama menggantung. Dia berharap Chevron secepatnya bergerak mengerjakan blok migas ini.

Hingga pertemuan berakhir, pemerintah belum mendapatkan proposal detail plan of development (PoD) Chevron terkait IDD tersebut. Sebelumnya, Wamen ESDM Arcandra Tahar mengatakan Jumat (28/6) baru terlihat angka pasti pemangkasan biaya pengembangan IDD oleh Chevron.

Chevron sejauh ini berupaya memangkas biaya pengembangan dan operasional Indonesia Deepwater Development Gendalo-Gehem sekitar US$6 miliar dari proposal awal US$12,8 miliar. Namun, pemerintah belum mendapatkan proposal detail.

Dalam data SKK Migas, Proyek IDD Gendalo dan Gehem yang dikelola oleh Chevron Makassar Ltd. bakal mulai on stream pada 2024 dan 2025. IDD Gendalo diperkirakan memiliki produksi sekitar 500 juta kaki kubik per hari, sedangkan Gehem memiliki produksi sebesar 420 juta kaki kubik per hari.

Tag : chevron, ignasius jonan
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top