LRT Palembang bisa Melaju 80 Kilometer Per Jam di Jalur Lurus

Kementerian Perhubungan melakukan uji coba light rail transit (LRT) atau kereta ringan Sumatera Selatan yang kedua kalinya pada 10 Juli kemarin.
Dewi Aminatuz Zuhriyah | 11 Juli 2018 19:22 WIB
Rangkaian Light Rail Transit (LRT) Palembang melewati stasiun OPI Jakabaring, Palembang, Sumatra Selatan, Selasa (22/5/2018) dini hari. - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perhubungan melakukan uji coba light rail transit (LRT) atau kereta ringan Sumatera Selatan yang kedua kalinya pada 10 Juli kemarin.

Direktur Lalu Lintas (Lalin) dan Angkutan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Zulmafendi mengatakan dilakukannya uji coba tersebut dilakukan untuk memastikan baik tidaknya sebelum dikunjungi oleh Presiden pada 13 Juli besok.

“Uji coba ini kan menyusul adanya rencana kunjungan Presiden ke Sumatera Selatan, salah satunya yang mau dilihat ya LRT ini,” kata Zulmafendi kepada Bisnis Rabu (11/7/2018).

Dalam hal ini, Zulmafendi mengatakan kereta ringan itu dipastikan bisa melaju dengan kecepatan sekitar 80km/jam.

“Kecepatan masing-masing segmen beda, cuma kalau lurus saja jalannya bisa 80km/jam, kalau ada tikungan ya bisa pelan.”

Sebelumnya, LRT Sumatera Selatan sudah pernah dilakukan uji coba, pada 25 Juni lalu. Uji coba itu dilakukan  oleh tim terpadu, yakni Ditjen Perekeretaapian Kemenhub, PT.KAI, PT, Waskita Karya, PT. Len dan PT. Inka, melingkupi aspek prasarana, sarana dan pelatan sistem pengoperasian kereta ringan itu.

Hasil uji coba menunjukkan bahwa kereta ringan tersebut siap digunakan dengan kecepatan operasi 85 km/jam sebagaimana yang ditargetkan oleh Pemerintah.

LRT Sumsel memang didesain menggunakan konstruksi jalur layang (elevated track) dengan lebar spoor 1067 mm, yang dilengkapi third rail sebagai power supply, dengan pertimbangan untuk meminimalkan pembebasan lahan dan meminimalkan masalah sosial seperti yang sering terjadi pada jalur at grade.

Dipilihnya elevated track dimaksudkan untuk menjaga kelandaian maksimum jalur (maksimum 2%) untuk kenyamanan penumpang serta efisiensi biaya operasional dan biaya perawatan.

Apalagi, lintasan rel LRT mengandung listrik tegangan tinggi yang diambil dari bawah dengan menggunakan third rail pada sisi luar jalur kereta  atau di tengah-tengah jalan rel, akan sangat berbahaya apabila tidak dibangun secara elevated.

Jika dibandingkan dengan konstruksi at grade, elevated track juga dapat meminimalisasi kebutuhan ruang bebas serta mengurangi biaya pemeliharaan yang harus selalu dilakukan pada konstruksi at grade seperti menjaga elevasi jalur yang cenderung berubah akibat karakteristik tanah yang terpengaruh oleh kondisi tanah setempat, penggantian dan penambahan ballast, dan pemeliharaan drainase.

Pembangunan LRT Sumatera Selatan selain untuk mendukung perhelatan Asian Games, juga sesuai dengan rencana RIPNAS di mana antar moda transportasi saling  terhubung.

Moda transportasi kereta api harus dapat terhubung dengan bandara, pelabuhan, terminal bus dan stasiun kereta yang ada. Disisi lain, adanya LRT juga bisa mengurangi porsi kemacetan sebesar 50% jika masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi beralih menggunakan kereta ringan itu.

 

Tag : LRT
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top