Hindari Sengketa, Data Produksi Beras Perlu Dibenahi

Data produksi beras yang selalu menimbulkan sengketa antarinstansi terkait dan memengaruhi pasokan komoditas perlu dibenahi.nn"Sistem pendataan yang benar perlu segera dibuat untuk menjadi acuan bagi Kementan, Kemendag, bahkan presiden sebagai dasar bila akan membuat kebijakan beras," kata Ono Surono, anggota DPR Komisi IV.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 19 Agustus 2018  |  15:51 WIB
Impor beras dalam 5 tahun terakhir - Jibi

Bisnis.com, JAKARTA - Data produksi beras yang selalu menimbulkan sengketa antarinstansi terkait dan memengaruhi pasokan komoditas perlu dibenahi.

"Sistem pendataan yang benar perlu segera dibuat untuk menjadi acuan bagi Kementan, Kemendag, bahkan presiden sebagai dasar bila akan membuat kebijakan beras," kata Ono Surono, anggota DPR Komisi IV.

Ono menjelaskan, penyediaan data yang benar bisa membuat pemerintah mengambil keputusan yang tepat, terutama apabila ingin mengambil kebijakan impor untuk stabilisasi harga beras.

Menurut dia, kebijakan impor yang dilakukan untuk pemenuhan stok bisa berdampak pada kesejahteraan petani, padahal konsumen juga membutuhkan beras dengan harga yang wajar.

"Ketika pada saat tertentu harga beras naik tidak wajar, terlihat jelas siapa yang diuntungkan, yaitu orang-orang yang selama ini menguasai distribusi," kata politisi PDI-Perjuangan ini.

Ono juga meminta adanya perbaikan tata niaga perberasan dari sisi regulasi ataupun praktik di lapangan serta evaluasi atas program cetak sawah maupun benih bagi petani yang bertujuan meningkatkan produksi dalam negeri.

"Kalau produksi beras berdasarkan laporan Kementan selalu meningkat, berarti sudah on the track. Semua program harus dievaluasi, yang belum wajib diperbaiki, yang baik harus ditingkatkan," ujarnya.

Selama ini pengadaan data beras menimbulkan sengketa, karena Kementerian Pertanian mengklaim produksi mencukupi bahkan surplus. Sebaliknya, sejak awal tahun impor beras juga dilakukan.

Pengamat Pertanian Khudori mengatakan, selama ini tidak ada data pembanding dari instansi terkait mengenai produksi beras, karena yang memproduksi data hanya Kementerian Pertanian.

Padahal, menurutnya, metode perolehan data tersebut diragukan, karena tidak ada penghitungan secara riil untuk jumlah luasan lahan. Padahal, luas lahan dapat menentukan seberapa besar produksi beras.

"Pengumpulan datanya memang bukan survei lapangan. Itu tadi perkiraan-perkiraan," kata Khudori.

Meski demikian, persoalan impor tidak hanya mengacu pada produksi beras, karena ada masalah lain, yaitu tidak optimalnya penyerapan Bulog karena masih rendahnya Harga Pokok Pembelian yang ditetapkan pemerintah.

"Problem utama terkait impor beras adalah kemampuan Bulog menyerap beras atau gabah hasil produksi dalam negeri," tambahnya.

Selain itu, musim kemarau pada tahun ini yang lebih panjang bisa menambah persoalan karena dapat menyebabkan terjadinya kegagalan panen dan berkurangnya produksi.

Tag : impor beras, Harga Beras
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top