Jeli Menyikapi Perubahan Tren Belanja Konsumen

Tren belanja online saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat tak hanya di dunia tetapi juga di Tanah Air.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 20 Agustus 2018  |  20:20 WIB
Pengunjung berada di JD.ID X disela-sela peresmian pusat pengalaman berbelanja berbasis teknologi AI (Artificial Intelligence) pertama di Indonesia "JD.ID X" di Jakarta, Kamis (2/8/2018). - JIBI/Abdullah Azzam
Bisnis.com, JAKARTA - Tren belanja online saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat tak hanya di dunia tetapi juga di Tanah Air.
Belanja online tak hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari, namun belanja online juga mencakup pembelian tiket pesawat, kamar hotel hingga tiket kereta api.
Tren belanja online untuk travelling ini tentu menumbuhkan dan mengembangkan industri jasa.
Pasalnya, hanya bermodalkan handphone, belanja online ini bisa dilakukan dimana pun dan kapan pun.
Executive Director Nielsen Indonesia  Budy Gounawan mengatakan konsumen di seluruh dunia menunjukkan adanya permintaan yang terus meningkat untuk solusi nyaman yang dapat membantu menyederhanakan hidup mereka, dan hal ini sangat mempengaruhi kebiasaan konsumsi dan belanja mereka
Lebih dari seperempat konsumen global mengatakan mereka mencari produk yang membuat hidup mereka lebih mudah sebesar 27% dan nyaman digunakan sebesar 26%.
Perangkat seluler dan platform digital membentuk pengalaman konsumen dan mengubah keterlibatan dari merek dan produk ke konsumen.
Berdasarkan Nielsen Quest for Convenience Report, sebesar 74% konsumen online Indonesia menikmati kebebasan terhubung kapan saja, dimana saja. Lalu sebesar 63%  konsumen menyatakan bahwa memiliki perangkat seluler yang terhubung dengan internet membuat hidup mereka jadi lebih baik.
"Sebesar 59% konsumen Indonesia mengatakan mereka menggunakan perangkat mobile untuk membandingkan harga pada saat akan berbelanja," ujarnya dalam siaran pers, Senin (20/8/2018). 
Konsumen Indonesia lebih sering melakukan pembelanjaan online untuk membeli produk terkait fesyen sebesar 63% dan kebutuhan travel 63%.
"Kenyamanan bisa diartikan berbeda oleh konsumen yang berbeda, tergantung pada keadaan mereka, budaya, lokasi, kematangan pasar dan akses kepada teknologi. Intinya kenyamanan itu adalah kemampuan melepaskan diri dari beban pekerjaan rutin, sehingga kita bisa memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan hal-hal yang penting bagi kita," tutur Budy. 
Tingginya minat masyarakat untuk melakukan pembelian akomodasi wisata melalui online membuat agen penjualan wisata online mulai tumbuh.
Pengamat Ekonomi Bisnis dari Universitas Indonesia Ari Kuncoro tak memungkiri terdapat perubahan masyarakat dalam melakukan belanja yang saat ini serba online.
Banyaknya masyarakat yang menggunakan situs belanja online karena kemudahan yang diberikan dan dapat menggunakan alat pembayaran kredit card sehingga tak mengganggu kebutuhan hidup selama 1 bulan.
"Jadi yang gajinya pas-pasan pun dapat ngutang beli barang ataupun traveling beli tiket dulu. Jadi ga harus nunggu dia punya uang dahulu," katanya. 
Maraknya masyarakat yang memilih membeli tiket perjalanan wisata dibandingkan membeli produk barang karena adanya fenomena media sosial terutama instagram.
Fenomena ini membuat orang berwisata dan mengupload foto saat berwisata lalu di-like dan di-comment.
"Butuh aktualisasi diri dan banyak tiket murah sehingga banyak yang memilih untuk beli tiket online," ucap Ari.
Diperkirakan pertumbuhan masyarakat yang membeli tiket online untuk traveling mencapai sebesar 5,7% sepanjang tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya bertumbuh sebesar 5,3%.
Pertumbuhan pembelian tiket traveling online ini diperkirakan terus meningkat dan bakal terjadi perubahan pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh industri jasa.
"Konsekuensinya pemerintah harus menyiapkan objek wisata, hotel, kerajinan, karena gaya hidup baru yang lebih travelling," kata Ari. 
PR Manager Traveloka Busyra Oryza mengatakan penjualan tiket pesawat dan hotel setiap tahunnya melalui situs online menunjukkan pertumbuhan yang positif.
Saat ini jumlah download aplikasi Traveloka telah mencapai 40 juta kali atau meningkat 4x lipat sejak akhir 2016.
"Kami juga sangat optimis dengan pertumbuhan pariwisata Indonesia, karena melihat tren peningkatan masyarakat untuk berlibur, merasakan pengalaman baru dan menciptakan momen kebersamaan dengan keluarga dan orang terdekat," ujarnya. 
Tantangan yang dihadapi situs travel online saat ini yakni memberikan pengalaman booking yang komprehensif tidak hanya untuk produk perjalanan tetapi juga gaya hidup.
"Maka dari itu kami telah meluncurkan beragam produk baru yang semakin melengkapi kebutuhan pelanggan mulai dari transportasi (tiket pesawat, kereta, car rental, dan bus), akomodasi, dan gaya hidup (kuliner dan aktivitas & rekreasi)," ucapnya.
Tantangan tersebut terus memacu semangat dan komitmen Traveloka sebagai perusahaan teknologi untuk selalu berinovasi dan pengembangan produk dengan pendekatan berbasis fokus pada kebutuhan pengguna.
Salah satu bentuk inovasi yang dilakukan, tidak hanya dalam bentuk produk namun juga layanan asuransi untuk pemesanan tiket pesawat dan hotel dengan bekerja sama dengan Chubb.
Secara umum, terdapat tren yang baik dari pemesanan asuransi perjalanan. Sejak diluncurkan hampir 3 tahun lalu, pengguna yang menggunakan asuransi meningkat hingga 50% setiap tahunnya, sedangkan besaran belanja asuransi perjalanan meningkat hingga 85% setiap tahunnya.
Dengan hanya menambahkan biaya mulai dari Rp12.500 pengguna bisa mendapatkan manfaat perlindungan hingga ratusan juta rupiah.
"Ke depannya pihaknya akan terus mengembangkan potensi dari produk asuransi ini agar dapat dinikmati oleh pengguna kami di produk-produk Traveloka lainnya sehingga pengguna kami mendapatkan ketenangan saat melakukan perjalanan," tutur Busyra
Tag : belanja online
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top