Ekspor Produk Pertanian Makin Meranggas

Ekspor produk pertanian Indonesia kian melempem akibat sejumlah tekanan eksternal, kendati sektor agrikultura menjadi penyumbang terbesar kedua dalam pertumbuhan produk domestik bruto nasional.  
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 22 Agustus 2018  |  14:16 WIB
Petani memanen jagung di salah satu perkebunan di Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (11/1/2018)./ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA — Ekspor produk pertanian Indonesia kian melempem akibat sejumlah tekanan eksternal, kendati sektor agrikultura menjadi penyumbang terbesar kedua dalam pertumbuhan produk domestik bruto nasional.  

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor produk pertanian pada Januari—Juli 2018 mencapai US$1,87 miliar, anjlok dari capaian US$2,03 miliar pada periode yang sama 2017. Kontribusinya terhadap struktur ekspor nonmigas tahun ini pun mengkerut menjadi hanya 1,80% dari 2,17% tahun lalu.

Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan Tuti Prahastuti menjelaskan, melempemnya performa ekspor produk pertanian lebih dipicu oleh rendahnya permintaan sejumlah produk agrikultura Indonesia dari negara lain.

“[Akibatnya] Harga [komoditas pertanian] pun terkoreksi karena permintaannya turun, terutama untuk produk-produk andalan Indonesia seperti karet dan kopi,” ujarnya, Senin (20/8).

Dalam hal ini dia mengacu kepada produk pertanian tanaman tahunan, yang menjadi kontributor terbesar secara nilai pada ekspor produk pertanian Indonesia.

Ekspor lini komoditas tersebut sepanjang 7 bulan pertama tahun berjalan terkoreksi  24,22% secara year on year (yoy). Produk kopi, karet, dan lada hitam membukukan penurunan ekspor tertajam, yaitu masing masing turun 37,82%, 16,89% dan 67,24% secara yoy.

Menurut Tuti, pemerintah telah menyiapkan sejumlah antisipasi untuk mengatasi problema itu. Selain mencari negara pasar baru melalui pameran, pemerintah tengah memacu eksportir agar dapat memanfaatan pakta dagang bebas (free trade agreement/FTA) yang sudah terjalin.

Dari kalangan pengusaha, Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengatakan, penurunan permintaan kopi global dari Tanah Air disebabkan oleh panen serentak yang terjadi di negara penghasil kopi lain, seperti Vietnam.

Kondisi itu menciptakan kelebihan pasokan di pasar global yang berujung pada turunnya harga komoditas tersebut. Pranoto menyebut, dari total produksi kopi nasional, 33% di antaranya digunakan untuk konsumsi domestik dan sisanya dijual ke luar negeri.

“Selain itu, kami melihat, dengan kelebihan pasokan global dan rendahnya harga kopi, para petani lokal pun menahan pengiriman kopi ke luar negeri,” ujarnya.

TEKANAN HARGA

Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo)  Azis Pane membenarkan, terus melorotnya harga karet dunia sejak awal tahun ini menjadi salah satu pemicu volume dan nilai ekspor produk tersebut terjun bebas.

Berdasarkan data yang dimilikinya, harga karet dunia sempat mencapai US$202/kg pada Januari 2018 dan terus turun hingga menjadi US$160/kg pada awal Agustus tahun ini.

“Ada Vietnam yang baru-baru ini muncul sebagai produsen karet di luar ITRC [International Tripartite Rubber Council]. Pasokan mereka besar karena menyedot produksi dari Laos dan Kamboja dan mereka berhak menentukan harga di luar acuan yang ditentukan ITRC,” ujarnya.

Selain dengan Vietnam, Indonesia juga dinilainya kalah bersaing dengan sesam anggota ITRC. Pasalnya, China sebagai negara konsumen terbesar, lebih memilih mengkapalkan impor karet dari Thailand dan Malaysia yang lebih dekat secara geografis.

Ekonom Indef Rusli Abdullah mengatakan, pemerintah patut mewaspadai tren penurunan ekspor produk pertanian unggulan Indonesia, khususnya kopi.  Menurutnya, tingginya permintaan dalam negeri bakal terus menggerus kuota produk kopi yang biasanya diekspor.

“Berdasarkan riset kami, dengan tingkat konsumsi kopi dalam negeri saat ini, pada 2025 Indonesia berpotensi mengimpor kopi,” katanya.

Hal itu, lanjutnya didasarkan pada tren pertumbuhan konsumsi kopi nasional yang  akan terkerek 7% per tahunnya hingga 2025. Sementara itu, pertumbuhan produksi kopi dalam negeri hanya berkisar 1%-2% per tahunnya.

Rusli juga memperkirakan, tingkat produksi pertanian yang relatif stagnan dan tidak selaras dengan kenaikan konsumsi dalam negeri akan memaksa RI melanjutkan kebiasaan impor produk pertanian dan pangannya.

 

 

 

Jualan Produk Pertanian Makin Susah?

 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian memiliki peran:

  • Menyumbang 13,63% dari produk domestik bruto (PDB) kuartal II/2018, tertinggi kedua setelah industri pengolahan.
  • Lapangan usaha sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 9,93% pada kuartal II/2018 dari kuartal sebelumnya, dipicu oleh panen raya subsektor hortikultura (22,86%) dan perkebunan (26,73%).
  • Produksi berbagai komoditas pertanian (gabah, cabai, jagung, dan bawang merah) diklaim meningkat tertinggi dalam 1 dekade terakhir.

Namun, mengapa ekspor dari sektor pertanian justru semakin menurun? Sepanjang Januari—Juli 2018, nilai ekspor produk pertanian hanya US$1,87 miliar alias merosot 7,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Apa yang salah dengan perdagangan produk pertanian Indonesia?

 

Komposisi Ekspor Nonmigas Indonesia (juta US$)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lini Komoditas          Jan—Jul 2017            Jan—Jul 2018            Perubahan (%)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pertanian                     2.032                           1.879                           -7,50

Industri Pengolahan    70.059                         74.820                         6,80

Pertambangan dll        12.741                         17.509                         37,43

Total ekspor               84.832                         94.210                         11,05

------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Ekspor Produk Pertanian Indonesia (juta US$)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lini Komoditas                      Jan—Jul 2017 Jan—Jul 2018          Perubahan (%)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pertanian tanaman semusim    72.773             154.061                       111,70

Pertanian tanaman tahunan     1.425.152        1.079.978                    -24,22

Pertanian tanaman hias dan    6.778               6.981                           3,00

Peternakan                              179.988           198.861                       10,49

Satwa liar                                341                  220                              -35,51

Pengusahaan hutan                 7.213               10.795                         49,65

Kayu                                       403                  416                              3,25

Hasil hutan bukan kayu          93.000             119.724                       28,74

Perikanan tangkap                   143.681           142.294                       -0,97

Perikanan budidaya                102.736           166.388                       61,96                    

------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

Ekspor Komoditas Pertanian Tanaman Tahunan (juta US$)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Komoditas                              Jan—Jul 2017 Jan—Jul 2018          Perubahan (%)

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Kopi                                        711.415           442.387                       -37,82 

Tanaman obat & rempah         374.494           335.628                       -10,38 

Lada hitam                              61.987             20.310                         -67,24

Lada putih                               66.866             51.257                         -23,34

Biji kakao                                24.870             36.046                         44,94  

Cengkih                                   15.981             23.120                         44,68                          

Lada lainnya                           5.240               5.613                           7,11

Teh                                          1.984               4.076                           105,46            

Karet alam                               5.926               4.920                           -16,98

Buah-buahan                           155.994           156.375                       0,24                

Lainnya                                   391                  247                              -36,95

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2018

Tag : pertanian
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top