Marketplace Indonesia Semakin Kompetitif di Asean

Ditengah ketatnya persaingan industri perdagangan elektronik,  pemain marketplace lokal Indonesia terbukti memiliki daya saing yang cukup tinggi dibandingkan dengan kompetitor asing.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 22 Agustus 2018  |  17:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Ditengah ketatnya persaingan industri perdagangan elektronik,  pemain marketplace lokal Indonesia terbukti memiliki daya saing yang cukup tinggi dibandingkan dengan kompetitor asing.

iPrice Regional Partnership Manager Jayden Purna mengatakan, persaingan marketplace di Indonesia sangat ketat, dan pasar dagang-el tidak hanya dikuasai oleh satu pemain dominan.

"Di Indonesia persaingannya ketat, bahkan paling ketat di Asia Tenggara, karena kita punya pemain lokal yang sangat kuat, seperti Tokopedia dan Bukalapak," katanya kepada Bisnis.com belum lama ini.

Berdasarkan analisis iPrice dari SimilarWeb selama kuartal II/2018, kunjungan Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Shopee masing-masing 111,48 juta per bulan, 85,13 juta per bulan, 49,99 per bulan, dan 30,84 juta per bulan.

Hal tersebut, berbeda dengan negeri jiran, seperti Malaysia, Vietnam, Laos, dan Filipina, yang peringkat pertama marketplace-nya justru dikuasai pemain asing.

Jika diurutkan berdasarkan peringkat kunjungan aplikasi terbanyak, marketplace lokal masih masih tetap menduduki posisi teratas, yakni berdasarkan urutan Shopee, Tokopedia, Bukalapak dan Lazada. Hanya saja, Jeyden mengatakan, data terkait  dengan total kunjungan tidak dapat menunjukkan besarnya total transaksi yang dihasilkan marketplace.

Meski demikian, iPrice menilai setiap marketplace memiliki cara pemasaran yang berbeda-beda dalam menarik pengunjung untuk bertransaksi. Contohnya, Lazada. Jeyden menjelaskan, sejak mendapat suntikan dana senilai Rp27,5 triliun oleh Alibaba, Lazada lebih fokuskan pada optimalisasi pengunjung aplikasi.

"Lazada lebih sering memberikan promosi, tetapi terbatas untuk pengguna aplikasi," ucapnya.

Marketplace lain, Tokopedia, mengadakan acara yang cukup spektakuler selama kuartal II/2018. Bahkan, acara tersebut ditayangkan di 3 stasiun tv berbeda, yang mana hal tersebut merupakan gebrakan paling fenomenal bagi marketplace.

Sementara itu, lanjut Jeyden, Bukalapak meningkatkan minat pengunjung bebelanja dengan promosi cash back Rp200.000 dari belanja Rp500.000. Dia mengatakan, metode tersebut sangat ampuh diterapkan di Indonesia, karena 33% (riset snapcart) orang indonesia suka dengan promo cash back.

Adapun, Shopee meningkatkan transaksi penjualan dengan cara meningkatkan awareness masayarakat, yakni dengan iklan tv dan billboard. Selain itu, sama seperti Lazada, Shopee juga mengutamakan promosi kepada pengguna aplikasinya.

Menaggapi survei iPrice, Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Paramadina Mulya Agus W. Soehadi mengatakan, marketplace harus memiliki strategi pemasaran kombinasi. Menurutnya, persaingan marketplace dengan sarana internet mengharuskan pemilik toko untuk membuat calon pembeli langsung menemukan barang yang diinginkan.

"Dengan satu klik orang bisa pindah, oleh karena itu strategi masketplace bukan cuma memberi potongan harga, tetapi juga harus disatukan dengan program lain yang menarik, sehingga orang mau datang, dan harus unik, tak boleh sama," katanya.

Sebenarnya, Agus menjelaskan, market place sama halnya seperti toko ritel biasanya, yang mana tujuan dari toko adalah mengundang pengunjung sebanyak-banyaknya. Dari kunjungan tersebut pemilik toko tentunya akan berharap ada beberapa pengunjung yang membeli barang dagangannya.


Menaggapi hal tersebut, Country Brand Manager Shopee Rezki Yanuar mengatakan, Shopee lebih banyak memberikan penekanan promosi pada pengguna aplikasi.

Hal tersebut ditujukan untuk dapat lebih dekat berinteraksi langsung dengan pengguna. Diharapkan dengan diunduhnya aplikasi, informasi terkait promo yang diberikan shopee lebih cepat tersampaikan.

"Hal ini tentunya sejalan dengan komitmen kami untuk memberikan pengalaman belanja online yang mudah, nyaman dan menyenangkan bagi pengguna," katanya.

Rezki melanjutkan, dengan peningkatan kunjungan diaplikasi, Shopee berhasil mencatat 1,5 juta transaksi pada periode 28 Mei--4 Juni 2018.

"Tentunya kunjungan berbanding lurus, semakin tingginya peningkatan kunjungan semakin tinggi pula jumlah order yang kami peroleh," ucapnya.

Sementara itu, Senior Communications Lead Tokopedia Siti Fauziah menjelaskan Tokopedia sangat memanfaatkan momentum Ramadhan 2018.

"Festival belanja online terbesar dalam sejarah perusahaan, tepatnya selama bulan Mei 2018, bertajuk Ramadan Ekstra. Ramadan Ekstra menghadirkan ratusan produk eksklusif, flash sale dan potongan harga yang sangat menarik," jelasnya. Hanya pada periode Ramadhan tahun ini saja, katanya, Tokopedia dikunjungi sebanyak 73 juta kali.

Tag : e-commerce
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top