Ini Penyebab Permintaan Baja Lapis Lesu

Pertumbuhan permintaan baja lapis di paruh kedua tahun ini diproyeksikan masih lesu.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 27 Agustus 2018  |  21:01 WIB
Pekerja mengelas kawat tiang pondasi proyek double-double track (DDT) atau rel ganda Paket A Manggarai-Jatinegara, Jakarta, Jumat (21/). - Antara/Angga Budhiyanto

Bisnis.com, JAKARTA--Pertumbuhan permintaan baja lapis di paruh kedua tahun ini diproyeksikan masih lesu.

Henry Setiawan, Ketua Klaster Baja Lapis Aluminium Seng Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (the Indonesia Iron and Steel Industry Association/IISIA), mengatakan sejak semester I/2018, permintaan baja lapis tidak terlalu menggembirakan. Hal ini disebabkan sektor konstruksi yang belum kembali bergairah dan juga menjelang pemilihan presiden tahun depan.

"Harapan kami, di semester kedua tetap tumbuh, tetapi mungkin hanya kecil pertumbuhannya di bawah 10%," ujarnya Senin (27/8/2018).

Permintaan baja lapis sangat dipengaruhi sektor konstruksi karena banyak digunakan untuk perumahan, yaitu sebagai rangka atap. Henry berpendapat, industri baja lapis dan baja secara umum akan tumbuh lebih tinggi apabila pemerintah memoratoriun surat perizinan impor (SPI) baja paduan untuk konstruksi.

Menurutnya, saat ini impor baja paduan, terutama dari China, sangat mencederai industri baja dalam negeri karena masuk melalui pelarian HS number. Baja paduan sejatinya diperlukan untuk otomotif dan alat berat, tetapi pada praktiknya banyak lari ke sektor konstruksi.

"Kami terus berupaya bicara ke pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan. Seharusnya, Kemendag memoratorium SPI baja paduan untuk konstruksi," jelasnya.

Berdasarkan data Indonesia Zinc Aluminum Steel Industries (IZASI), asosiasi yang membawahi industri baja lapis, permintaan baja lapis di Indonesia mencapai 1,3 juta ton per tahun. Jumlah ini seharusnya mampu menyerap seluruh produksi yang dihasilkan oleh anggota asosiasi. Total produksi anggota asosiasi baja lapis ini baru 660.000 ton dan kapasitas terpakai tidak sampai setengahnya.

Tag : industri baja
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top