Prospek Industri Kuliner di Indonesia Makin Moncer

Industri berbasis kuliner di Indonesia proyeksi semakin moncer pada tahun ini, ditopang oleh konsumsi masyarakat kelas menengah-atas yang kian menguat.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 28 Agustus 2018  |  16:46 WIB
Warwo Jowotimuran hadirkan kuliner Jawatimuran - JIBI/Ema Sukarelawanto

Bisnis.com, JAKARTA — Industri berbasis kuliner di Indonesia proyeksi semakin moncer pada tahun ini, ditopang oleh konsumsi masyarakat kelas menengah-atas yang kian menguat.

Presiden Direktur Boga Group Kusnadi Rahardja mengatakan, perusahaannya menargetkan 15 pembukaan gerai pada 2018. Namun, target tersebut sudah dapat direalisasi dan bahkan Boga Group menetapkan target baru, yakni pembukaan 11 gerai tambahan.

Adapun, pada awal 2018 Boga Group telah memiliki 154 unit gerai dan 13 merek. Beberapa di antaranya a.l. Bakerzin, Onokabe, Paper Launch, dan Kimakatsu.

"Target pertama itu sudah terealisasi hingga Lebaran tahun ini, dan akhir tahun itu kami akan tambahan lagi," katanya, Senin (27/8/2018).

Kusnadi menjelaskan, pencapaian tersebut dikarenakan Boga Group dapat memanfaatkan pergeseran pola konsumsi masyarakat secara efektif. Menurutnya, animo konsumen kelas menengah atas memberi pengaruh sangat signifikan pada peningkatan omzet.

Hanya saja, sebutnya, tantangan utama industri berbasis kuliner di Indonesia saat ini adalah ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas, karena permintaan pasar yang kuat membutuhkan pasokan tenaga kerja yang besar pula.

Selain itu, kata Kusnadi, industri berbasis kuliner mendapat tekanan signifikan dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai lebih dari 7% sepanjang tahun berjalan. Pasalnya, hampir 25% bahan baku yang digunakan oleh industri berasal dari luar negeri, seperti daging sapi dan ikan salmon.

Pemain lain, Cita rasa Prima (CRP) Group juga telah mencapai target pembukaan 200 gerai baru tahun ini.

"Kami awalnya menargetkan jumlah gerai tahun ini mencapai 200 unit, tetapi baru-baru ini kami sudah rampungkan target tersebut. Jadi kami targetnya sudah terlampaui," kata Manager Media Relation CRP Group Jelita Pramesti.

Meski demikian, sebutnya, tidak menutup kemungkinan CRP bakal meningkatkan jumlah gerai baru pada 2018. Bahkan, CRP sedang menjajaki beberapa negara di Asia Tenggara untuk pembukaan gerai baru tersebut.

Jelita menjelaskan, CRP mencoba untuk dapat menjaring pelanggan usia muda, karena kelas tersebut cukup antusias dalam berwisata kuliner. "Karena memang anak muda ini suka nongkrong, dan memang porsi mereka paling banyak, tetapi yang keluarga ada juga." Sebagai informasi, CRP memiliki 9 merek bisnis kuliner, beberapa di antaranya Nasi Goreng Rempah, Warung Up Normal, dan Bakso Boedjangan.

Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif, kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) selalu meningkat, yakni Rp708,27 triliun pada 2013, Rp784,87 triliun pada 2014, Rp0852,56 triliun pada 2016, dan Rp922,59 triliun pada 2017.

Peningktan tersebut didorong dari bisnis kuliner yang memberikan kontribusi sebesar 41,40% dengan penyerapan tenaga kerja 34% dari total penyerapan 16,91 juta pada tahun lalu.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran II Regional IV Kementerian Pariwisata Rizki Handayani mengatakan, pesatnya perkembangan industri kuliner Tanah Air berbanding lurus dengan menigkatnya gaya hidup masyarakat.

Dia mengimbau pelaku industri kuliner untuk dapat menyertifikasi bisnisnya, terutama halal. "Memang untuk Indonesia, saya lihat sertifikasi halal tersebut, cukup berpengaruh dalam menarik perhatian masyarakat," ucapnya.

Tag : bisnis kuliner
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top