Bappenas: Rencana Pengembangan Energi Terbarukan Kurang Dukungan

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengakui rencana pengembangan energi terbarukan belum memiliki dukungan kebijakan yang kuat.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 28 Agustus 2018  |  19:18 WIB
Ilustrasi - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengakui rencana pengembangan energi terbarukan belum memiliki dukungan kebijakan yang kuat. 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas, Bambang P.S Brodjonegoro mengungkapkan pemerintah belum memiliki kebijakan yang kokoh terkait dengan energi terbarukan. Padahal, Dewan Energi Nasional menetapkan bauran energi terbarukan harus mencapai 23% pada 2025.

"Tujuh tahun lagi itu waktu yang pendek. Hari ini masih di bawah 10% dari data yang saya tangkap," ungkap Bambang dalam Kuliah Umum di Universitas Multimedia Nusantara, Selasa (28/8).

Dengan data saat ini, bauran energi terbarukan harus naik 2% per tahunnya. Ini merupakan tantangan yang besar, termasuk upaya menyediakan energi terbarukan yang terjangkau bagi masyarakat dari sektor rumah tangga hingga industri. 

Menurut Bappenas, energi terbarukan yang paling potensial di Indonesia adalah energi air (hydro energy) karena sumbernya yang berlimpah. Namun, pembangunan pembangkit listrik tenaga air dengan fasilitas dam yang besar sangat sulit saat ini karena mahal pembangunannya. "Artinya banyak lari ke micro atau mini hydro tapi tidak mudah, harus cari sungainya," ujarnya.

Namun, dia menuturan PLTA Asahan salah satu contoh yang berhasil mendukung industri alumunium dan baja di Asahan, Sumatera Utara dengan biaya energi yang terbarukan dan terjangkau.

Sekarang ini, Bambang mengungkapkan adanya potensi pengunaan super dam atau bendungan raksasa yang mampu menghasilkan 3.000-2.000 MW di Kalimantan Utara. Dengan potensi ini, Bambang berharap pembangunan industri yang membutuhkan listrik besar dapat diarahkan ke daerah tersebut. 

Pembangkit listrik yang dimaksud tersebut  adalah PLTA Hydropower 1-5 di Sungai Kayan. Proyek ini merupakan proyek patungan antara Powerchina bersama dengan PT Indonesia Kayan Hydropower Energy Co. Ltd.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan yang bakal menjadi pembangkit bertenaga air terbesar di Indonesia, karena kapasitas terpasangnya bisa mencapai 9.000 MW. 

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengungkapkan pihaknya akan mendorong realisasi bauran energi baru terbarukan (EBT) mencapai di atas 20% pada 2025. "Semoga bisa di atas 20%," tegas Jonan dalam pesan singkat, Selasa (28/8).

Tag : bappenas
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top