Kementan Terbitkan Hasil Audit untuk Acuan Kebijakan Importasi Bibit Ayam Broiler

Kementerian Pertanian menerbitkan hasil audit GPS pada 2018 yang akan digunakan sebagai acuan dalam menentukan kebijakan importasi bibit ayam broiler.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 30 Agustus 2018  |  20:08 WIB
Peternak mengambil telur ayam broiler di salah satu peternakan di Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (7/3). - Antara/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Pertanian menerbitkan hasil audit GPS pada 2018 yang akan digunakan sebagai acuan dalam menentukan kebijakan importasi bibit ayam broiler.

Ketua Tim Audit Populasi GPS Ayam Ras Broiler Kementerian Pertanian Trioso Purnawarman memaparkan bahwa audit dilaksanakan pada seluruh perusahaan Pembibitan GPS ayam ras broiler yakni pada 14 perusahaan diantaranya adalah PT Charoen Pokphand Jaya Farm, PT Japfa Comfeed Indonesia, PT Bibit Indonesia, Cheil Jedang-Patriot Intan Abadi (CJ-PIA), dan PT Wonokoyo Jaya Corporindo. Adapun audit dilakukan pada dengan peternakan GPS sebanyak 37 unit dengan kandang yang terisi sebanyak 237 unit dari total kandang sebanyak 289 unit.

Sebaran peternakan GPS ayam ras broiler berada di 7 (tujuh) provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara dan Kalimantan Barat. Selain itu, strain GPS ayam ras broiler yang dibudidayakan oleh pelaku usaha adalah Cobb, Ross, Indian River dan Hubbard.

"Harusnya 1 GPS bisa menghasilkan 40 PS dan 5.600 FS. Tapi ternyata praktik di lapangan tidak begitu ada faktor lain yang berpengaruh,"katanya.

Menurut Trioso, walaupun menggunakan strain yang sama ternyata manajemen pemeliharaan, sistem penetasan dan biosekuriti ikut mempengaruhi produksi GPS menjadi PS. Beberapa kandang memiliki potensi pengembangan GPS antara 70%—90%.

Menurutnya dengan ketersediaan data hasil audit regulator dapat melakukan pendampingan terhadap produsen yang masih rendah produktivitasnya. Dengan begitu industri perunggasan dapat lebih stabil karena tidak ada penataan yang jelas.

Trioso melanjutkan dengan hasil audit tersebut regulator juga akan mengatur rekomendasi serta masuknya GPS impor. Pada tahun sebelumnya seringkali terjadi pemasukan pada di bulan-bulan tertentu lalu kosong setelahnya.

"Ada impor yang masuk bersamaan, tapi ada bulan tertentu yang kosong sama sekali. Kami akan tata pemasukannya karena akibatnya produksi tidak stabil secara nasional," katanya.

Menurutnya regulator akan melakukan kajian bersama para pelaku usaha tentang ide tersebut. Sebab jika impor GPS 14 perusahan masuk semua dalam satu bulan yang terjadi adalah over produksi enam bulan setelahnya dan ada bulan-bulan yang kosong. Akibatnya peternak rakyat yang harus menanggung.
"Kami akan coba atur atau tidak mengeluarkan rekomendasi kepada mereka," katanya.

Audit ini katanya akan berjalan setahun sekali sedangkan laporan akan dibuat sebulan sekali sehingga populasi unggas dapat terpantau.

Selain itu, Trioso menyebutkan bahwa mekanisme pelaksanaan audit GPS ayam ras broiler dibagi atas dua tahap. Pertama, Desk Review dengan mengisi form/borang self assessment report (SAR).

Kedua, Outside Review dengan melakukan verifikasi dan observasi dilapangan terhadap populasi GPS ayam ras broiler, manajemen pemeliharaan, penetasan dan kesehatan, serta biosekuriti. Kemudian Tim melakukan evaluasi, valuasi dan rekomendasi hasil audit secara kompehensif.

Tim juga melakukan verifikasi dan observasi manajemen pemeliharaan, penetasan dan kesehatan meliputi ventilasi udara, kualitas air minum dan pakan, deplesi (kematian dan afkir) jantan dan betina, program vaksinasi dan titer antibodi, bobot badan dan keseragaman jantan dan betina, kepadatan per meter persegi, manajemen litter, rasio jantan dengan betina, program lampu, dan produksi.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengatakan jumlah ayam broiler dalam negeri saat ini sedang surplus. Berdasarkan realisasi produksi DOC FS Broiler bulan Januari sampai Desember perkiraaannya adalah 3,1 miliar ekor dengan rataan produksi sebanyak 263 juta ekor per bulan atau 62,6 juta ekor per minggu.

"Potensi produksi karkas tahun 2018 berdasarkan realisasi produksi DOC Januari-Juni 2018 dan potensi Juli-Desember 2018 sebanyak 3,3 juta ton dengan rataan perbulan sebanyak 27.586 ton," katanya pada Kamis (30/8).

Sementara itu, proyeksi kebutuhan karkas tahun 2018 sebanyak 3 juta ton, dengan rataan kebutuhan per bulan sebanyak 254.273 ton. Ketut mengatakan berdasarkan ketersediaan dan kebutuhan tersebut kondisi daging ayam nasional masih mengalami surplus pada 2018. Alhasil, ada potensi kelebihan produksi sebanyak 331.035 ton dengan rataan per bulan sebanyak 27.586 ton.

Dari hasil verifikasi Tim Audit Populasi Ayam Ras terhadap SAR (Self Assesment Report) ke lokasi pada Juli telah diperoleh data populasi GPS betina sebanyak 799.158 ekor dari 14 perusahaan pembibitan. Sementara jumlah total ayam ras GPS jantan sebanyak 111.984 ekor.

GPS betina umur 1 - 24 minggu sebanyak 316.217 ekor, sedangkan GPS betina umur 25 minggu – afkir sebanyak 482.941 ekor. GPS jantan umur 1 - 24 minggu sebanyak 55.792 ekor dan GPS jantan umur 25 minggu – afkir sebanyak 56.192 ekor.

Selanjutnya, berdasarkan validasi akhir pada tanggal 7 Agustus 2018 maka total populasi GPS ayam ras broiler yaitu, jumlah total ayam ras GPS betina 763.075 ekor, ayam ras GPS jantan sebanyak 123.180 ekor. GPS betina umur 1 - 24 minggu sebanyak 214.335 ekor dan GPS Betina umur 25 minggu – afkir sebanyak 548.740 ekor.

GPS jantan umur 1 - 24 minggu sebanyak 54.438 ekor, dan GPS Jantan umur 25 minggu – afkir sebanyak 68.742 ekor.

Tag : kementerian pertanian, ayam
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top