Pengusahaan Air Minum, Pendanaan & Pelibatan Swasta

Pemerintah mempunyai hajat besar dalam menyediakan akses air minum. Tahun depan, tekad pemenuhan akses air bersih 100% harus diwujudkan dengan beragam cara.
Rivki Maulana | 10 September 2018 08:53 WIB
Pengunjung berjalan di atas pipa air, di sumber mata air alam Umbulan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. - JIBI/Wahyu Darmawan

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah mempunyai hajat besar dalam menyediakan akses air minum. Tahun depan, tekad pemenuhan akses air bersih 100% harus diwujudkan dengan beragam cara.

Sumber dana yang dari anggaran negara yang cekak membuat penggunaan sumber dana alternatif menjadi pilihan.

Pekerjaan rumah untuk mengejar target penyediaan air minum memang cukup besar. Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat melansir bahwa dalam periode 2015—2019, target penyediaan air minum dipatok 34.319 liter per detik.

Per akhir 2018, pencapaian diproyeksi 20.440 liter per detik atau 60% dari target. Dengan kata lain, diperlukan upaya keras untuk mengejar sisa target sebanyak 13.882 liter per detik dalam satu tahun, angka yang lebih tinggi dari rata-rata pencapaian selama 2015—2018 sebesar 5.110 liter per detik.

Untuk memenuhi target akses air minum 100%, total investasi yang dibutuhkan juga tidak sedikit, yakni Rp254 triliun selama lima tahun atau Rp50,80 triliun per tahun. Dari jumlah itu, APBN hanya bisa memenuhi kebutuhan investasi 26%. Sisa kebutuhan pendanaan diharapkan dari APBD dan swasta.

APBD mendapat porsi pendanaan terbesar 47% karena pemerintah daerah memang mendominasi kepemilikan perusahaan daerah air minum selaku penyedia air minum untuk masyarakat di daerah.

Swasta juga diharapkan terlibat dalam pengusahaan air minum dengan proyeksi penanaman modal Rp49 triliun atau 27%.

MULAI TERBUKA

Bernardus R. Djonoputro, Country Head of Deloitte Infrastructure & Capital Projects, menilai bahwa proyek SPAM sudah mulai terbuka bagi investor selepas kesuksesan SPAM Umbulan.

Saat ini, SPAM Umbulan dibangun oleh PT Meta Adhya Tirta Umbulan selaku badan usaha pelaksana yang memenangi lelang. Tahun depan, SPAM berkapasitas 4.000 liter per detik ini ditargetkan rampung.

Menurut Bernardus, penyiapan proyek kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU), termasuk di sektor penyediaan air minum menjadi kunci kesuksesan proyek.

SPAM Umbulan sudah digagas sejak 40 tahun lalu. Proyek ini kemudian dirancang sejak 2010 dan prakualifikasi pada 2011. Namun, konstruksi baru dimulai pada 2017.

Setelah SPAM Umbulan, sejumlah proyek SPAM tampak mengucur lebih deras. SPAM Bandar Lampung, SPAM Semarang Barat, dan SPAM Jatiluhur sudah menggaet investor. Bahkan, SPAM Bandar Lampung yang memiliki kapasitas 750 liter per detik sudah memulai tahap konstruksi.

Di Semarang, PDAM Tirta Moedal selaku penanggung jawab proyek kerja sama (PJPK) telah mengumumkan pemenang lelang pengusahaan SPAM Semarang Barat. Konsorsium Aetra-Medco keluar sebagai pemenang dengan nilai penawaran Rp417,26 miliar.

Sementara itu, untuk SPAM Jatiluhur, Perum Jasa Tirta II juga sudah mengumumkan empat peserta yang lulus tahap prakualifikasi, yakni PT Adaro Tirta Mandiri dan konsorsium PT PP (Persero) Tbk. & PT Jakarta Propertindo. Dua lainnya adalah konsorsium PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama Tbk.-PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.-PT Tirta Gemah Ripah dan konsorsium PT Aetra Air Jakarta-PT Moya Indonesia.

Ke depan, akan makin banyak proyek air minum yang akan dibuka bagi swasta dan layak dinantikan, seberapa deras arus modal dari badan usaha mengucur setelah keran-keran pengusahaan dibuka.

Tag : air minum, pdam, spam umbulan, sumber daya air
Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top