Tahun Ini, Target Ekspor TPT Tertinggi Sepanjang Sejarah

Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) sepanjang tahun ini diyakini mampu tumbuh 8% dari pencapaian tahun lalu senilai US$12,78 miliar.
Yanita Petriella | 11 September 2018 16:01 WIB
Pekerja meyelesaikan pembuatan pakaian di pabrik garmen PT Citra Abadi Sejati, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) sepanjang tahun ini diyakini mampu tumbuh 8% dari pencapaian tahun lalu senilai US$12,78 miliar.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan, meski nilai tukar rupiah sedang tidak stabil, para pengusaha TPT optimistis ekspor salah satu produk andalan RI tersebut dapat mencapai US$13,5miliar sepanjang tahun ini. 

"Target tahun ini merupakan target ekspor tertinggi sepanjang masa," ujarnya kepasa Bisnis.com, Minggu (9/9/2018).

Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang mendukung optimisme pengusaha TPT. Di antaranya adalah iklim usaha yang dinilai telah membaik dan sejumlah infrastruktur pendukung industri yang telah dibangun oleh pemerintah. 

Selain itu, sebutnya, penetrasi pasar ekspor TPT tahun ini akan lebih difokuskan ke wilayah China dan Australia. 

Negeri Panda dipilih karena merupakan negara dengan jumlah penduduk 1,3 miliar orang dengan pendapatan per kapita yang terus meningkat dan kelas menengah yang mencapai 200 juta hingga 300 juta orang. Selama ini ekspor TPT ke China baru sekitar US$700 juta dan ditargetkan dapat mencapai US$1 miliar pada tahun ini.

"Adapun, ekspor ke Australia masih US$200 juta. Selama ini, pangsa pasar ekspor paling besar ke Amerika Serikat. Namun, tren dalam 5 tahun belakangan ini mengalami penurunan. Peningkatan ekspor ini juga karena adanya perang dagang antara AS dan China."

Ade menambahkan, para pengusaha tekstil di Indonesia telah menukarkan sebagain besar devisa hasil ekspor (DHE) mereka yang berbentuk dolar AS ke mata uang rupiah dalam rangka penguatan rupiah.

Penukaran tersebut untuk kebutuhan gaji pegawai dan biaya operasional di mana para pelaku industri yang biasanya menukar dolar AS ke rupiah hanya untuk keperluan sebulan tetapi kali ini ditingkatkan hingga 6 bulan ke depan. 

“Kami menukarkan sebesar 15% ke rupiah untuk komponen gaji dan operasional. Kami tidak menukarkan semua karena bahan baku kami, impor dan menggunakan mata uang dolar AS," katanya. 

Dia menyebut, rerata pendapatan devisa hasil ekspor dari industri pertekstilan mencapai lebih dari USD$3 miliar setiap tahunnya. Pada akhir 2014 tercatat industri tekstil berhasil menyumbang DHE senilai US$12,54 miliar.

Menurutnya, apabila pemerintah menjamin nilai bahan baku industri tekstil yang berasal dari luar negeri emiliki harga yang sama dalam setahun, maka pengusaha berani untuk menukarkan keseluruhan hasil ekspor ini ke mata uang rupiah. 

"Fluktuasi rupiah terhadap dolar AS ini berpengaruh pada perencanaan keuangan perusahaan dan pembelian bahan baku kami yang kebanyakan masih impor," ucap Ade.

Sementara itu, Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional Sutrisno Bachir meminta agar seluruh pelaku industri TPT mengonversi DHE-nya ke rupiah. Langkah tersebut dinilai akan meningkatkan daya tahan perekonomian nasional di tengah kondisi melemahnya rupiah.

Pasalnya, industri tekstil nasional menjadi salah satu sektor penyumbang devisa negara lebih dari US$13miliar."Saatnya pelaku usaha bersama pemerintah dan otoritas moneter bersama-sama untuk memperbaiki performansi rupiah," ujarnya.

Menurutnya, penguatan mata uang rupiah juga dapat dilakukan dengan cara menahan dana investor dan dunia usaha agar mengendap di Tanah Air. Selain itu, juga perlu dilakukan pengembangan investasi asing langsung yang berorientasi ekspor. 

Hal itu bertujuan untuk dapat merangsang pengembangan sektor tersebut dan tentunya harus didukung dengan insentif sehingga para investor semakin berminat.

"Fluktuasi rupiah terhadap dolar sebagai momentum kebangkitan industri nasional dengan peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar global. Saatnya pemerintah terus membangun iklim investasi yang mendukung peningkatan ekspor," terang Sutrisno.

Terpisah, Direktur Penelitian Center of Reform and Economic (CORE) Mohammad Faisal mengatakan penukaran hasil ekspor tekstil ke mata uang rupiah tentu akan membantu penguatan nilai tukar rupiah meskipun saat ini masih dalam tren rupiah yang melemah. 

"Kebijakan penukaran ke mata uang rupiah ini jadi semacam disinsentif buat eksportir kalau tidak dibarengi dengan insentif pada aspek-aspek yang lain.  Apalagi utk tekstil selama ini daya saingnya sudah cenderung melemah pangsa pasarnya," ucapnya.

Terlebih saat ini persaingan produk TPT di global sangat ketat karena adanya produsen baru asal Vietnam dan Bangladesh yang daya saingnya lebih baik dengan upah yang lebih murah. 

 

Tag : tpt
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top