Target Penjualan Ritel Tahun Ini Dikoreksi Habis-Habisan, Apa Penyebabnya?

Di tengah tren konsumsi yang semakin menguat, para pelaku industri ritel modern justru mengoreksi target pertumbuhan penjualan tahun ini dari 9%—10% menjadi hanya 5%.
Yanita Petriella | 12 September 2018 17:28 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah tren konsumsi yang semakin menguat, para pelaku industri ritel modern justru mengoreksi target pertumbuhan penjualan tahun ini dari 9%—10% menjadi hanya 5%.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta mengatakan, pesimisme tersebut dipicu oleh imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan pengenaan pajak penghasilan (PPh) Pasal 22 terhadap 1.147 komoditas impor.

Permasalahannya, pengusaha ritel sangat bergantung pada industri pemasok barang dagangan yang berasal dari impor. “Selama bahan bakunya ada, yang impor pasti naik. Tapi tunggu dari industri dan pemasok karena harga yang menentukan mereka,” ujarnya kepada Bisnis.com, Senin (10/9/2018).

Dia tak memungkiri, nilai tukar rupiah yang terus melemah sepanjang tahun berjalan semakin memberatkan pengusaha ritel, karena harga barang yang dijual ke tingkat konsumen menjadi naik dan harga bahan baku yang harus dibeli menjadi lebih mahal.

Menurutnya, saat ini, barang elektronik menjadi salah satu produk ritel yang akan mengalami kenaikan harga cukup signifikan akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

"Tak semua pengusaha menaikkan harga barangnya. Beberapa perusahaan telah melakukan perhitungan mengenai dampak nilai tukar beserta kenaikan [harga] sejak akhir atau awal tahun sebelumnya. Kenaikan harga pun dilakukan secara gradual," tuturnya.

Dia berpendapat, apabila tekanan rupiah terus berlanjut, kinerja penjualan ritel tidak akan sanggup menyamai pencapaian tahun lalu yang mampu tumbuh sebesar 7%—7,5%.

"Tahun ini, untuk bisa tumbuh dua digit atau sesuai target di awal sebesar 10% agak susah. Diperkirakan [pertumbuhan penjualan ritel modern pada tahun ini] hanya sebesar 5%-an," tegasnya.

STABIL

Saat dihubungi terpisah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Elektronik (Gabel) Ali Soebroto menuturkan penjualan produk elektronik di tingkat ritel hingga akhir tahun ini diharapkan stabil di level 10% seperti tahun lalu

“Konsumen elektronik seperti TV turun terus dari tahun ke tahun karena permintaannya sedikit. Untuk [penjualan] telepon genggam memang tahun lalu naik tapi tahun ini diperkirakan akan turun karena konsumen memilih menabung untuk traveling," katanya. 

Sementara itu, Managing Director Nielsen Indonesia Agus Nurudin menjelaskan, kondisi industri ritel di Indonesia saat ini belum mengalami tekanan yang berarti, karena kebanyakan pengusaha belum menaikkan harga atau dengan kata lain masih normal. 

"Dampaknya baru nanti setelah harga barang [dinaikkan karena] terkena implikasi pengusatan dolar AS. Untuk tahun ini, kami memprediksi pertumbuhan penjualan ritel hanya akan mencapai 3,5%" ucapnya.

Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan Ace Hardware Helen Tanzil menuturkan sebanyak 50% produk yang dijualnya merupakan barang impor. Meski jumlah barang impor lebih banyak dari barang lokal, perusahaan belum berniat untuk menaikkan harga jual ke konsumen. 

"Kami masih observasi, belum ada penyesuaian harga. Modal kerja untuk membeli barang impor juga masih terkendali," ujarnya.

Dari pengamatan ekonom, Direktur Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) Enny Sri Hartati mengatakan kondisi industri ritel memang belum mengalami rebound atau kembali ke pertumbuhan yang dua digit.

Menurutnya, tantangan sektor ritel yang paling utama saat ini adalah adanya pengaruh ekonomi digital  serta dampak dari PPh impor dan nilai tukar rupiah yang merosot. Apalagi, sektor ritel merupakan pendukung pertumbuhan ekonomi nasional dari sisi perdagangan.

"Tantangan saat ini untuk sektor ritel sangat berat. Pemerintah perlu ada kompensasi agar penurunannya tak signifikan dengan membuka kesempatan produktivitas lokal," tutur Enny. 

Berdasarkan survei penjualan eceran Bank Indonesia, penjualan eceran pada Juli 2018 tumbuh lebih tinggi, di mana Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Juli 2018 tercatat sebesar 216,0, tumbuh 2,9% secara year on year (yoy).

Adapun, peningkatan penjualan eceran antara lain dipengaruhi oleh tingginya permintaan pada musim tahun ajaran baru dan dampak dari pencairan Gaji ke-13 PNS dan pensiunan.

Berdasarkan kelompok komoditas, meningkatnya penjualan eceran terutama didorong kinerja penjualan kelompok komoditas sandang yang tercatat tumbuh 13,0% (yoy) dan bahan bakar kendaraan bermotor yang tumbuh sebesar 15,4% (yoy).

Penjualan eceran diperkirakan tetap tumbuh stabil pada Agustus 2018, yaitu mencapai 2,8% (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh penjualan pada kelompok sandang, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta barang budaya dan rekreasi.

Selain itu, penjualan eceran pada 3 bulan mendatang yakni Oktober—Desember diprediksi relatif meningkat. Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) kuartal IV/2018 sebesar 140,5 meningkat dibandingkan dengan 128,4 IEP pada  kuartal sebelumnya.

Selain itu, masih dari survei BI, responden memperkirakan pertumbuhan penjualan eceran pada Januari 2019 sedikit meningkat, terindikasi dari IEP 6 bulan yang naik dari 160,3 pada Desember 2018 menjadi 161,6 pada periode Januari 2019.

Tag : ritel modern
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top