Inaplas Berharap Aspal Berbahan Plastik Jadi Program Nasional

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) berharap penggunaan sampah plastik sebagai bahan campuran aspal sebagai program nasional.
Annisa Sulistyo Rini | 12 September 2018 21:13 WIB
Pekerja menyelesaikan proses pengaspalan di sela-sela peresmian penerapan aspal plastik di area pabrik PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) di Cilegon, Banten, Selasa (3/7/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA--Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) berharap penggunaan sampah plastik sebagai bahan campuran aspal sebagai program nasional.

Edi Riva'i, Ketua Inaplas, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Kemenko Bidang Maritim dan Kementerian PUPR dalam pengembangan penggunaan aspal plastik. Dalam pembangunan 1 kilometer jalan, dilerlukan 2 ton sampah.

Apabila pembangunan jalan nasional sepanjang 250.000 kilometer menggunakan aspal plastik, maka dibutuhkan 500.000 ton. Jumlah ini sangat signifikan untuk mengurangi sampah plastik.

"Tugasnya sekarang adalah bagaimana merangsang masyarakat mau mengambil kantong kresek. Ke depan, enggak hanya kantong kresek saja yang dimanfaatkan dalam aspal plastik, tetapi juga plastik multilayer yg belum disentuh," ujarnya di Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Penggunaan sampah plastik sebagai bahan campuran aspal disebut sebagai salah satu upaya mengurangi sampah plastik dalam negeri. Menurut Edi, masyarakat perlu mengubah mindset bahwa plastik merupakan material yang memiliki nilai, bukan sampah tak bernilai.

Dia mengingatkan bahwa terdapat potensi ekonomi yang tinggi dari material yang disebut dengan sampah plastik tersebut. Sebagai contoh, kantong kresek sekali pakai ketika dikumpulkan plastik kresek ini bernilai Rp1.500 per kilogram.

Bahan tersebut cukup dicuci bersih, tanpa pengolahan mekanis, akan dibeli oleh penampung Rp7.000-Rp9.000 per kilogram. Material plastik ini akan semakin tinggi nilainya jika dilakukan pengolahan terpadu dengan menjadi produk lainnya seperti campuran aspal, olahan menjadi produk plastik lainnya hingga bahan bakar minyak (BBM).

Seharusnya, lanjut Edi, dalam mengatasi sampah plastik, pemerintah bersama pihak swasta dan masyarakat harus mengembangkan cara manajemen sampah yang benar, yang dimulai dari tingkat rumah tangga. Selain itu, sampah plastik juga semestinya didaur ulang semaksimal mungkin dan hanya sedikit yang dibuang.

Salah satu produsen petrokimia, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. telah bekerja sama dengan para pengusaha daur ulang, hingga masyarakat di sekitar pabrik untuk memanfaatkan material kantong kresek sekali pakai yang sudah dibuang sebagai bahan campuran aspal.

Pada tahap awal dalam pengaspalan kawasan CAP, dibutuhkan 3 juta lembar sampah plastik untuk pengaspalan 6.372 meter persegi kawasan pabrik.

Secara nasional, dari data yang dirangkum Inaplas tercatat konsumsi plastik mencapai 5,6 juta ton per tahun. Rinciannya, konsumsi plastik daur ulang sebanyak 1 juta ton, dan sisanya sebesar 4,6 juta ton merupakan plastik berasal dari bahan baku nafta.

Dari konsumsi plastik yang berasal dari nafta, 3 juta ton masih berada di rak-rak dan gudang sebagai kemasan. Sebanyak 1,5 juta ton tertangani dengan dikirim tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, sedangkan sisanya 190.000 ton tidak tertangani dan mengalir masuk ke saluran pembuangan dan berakhir di laut.

Tag : aspal
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top