Holcim Lepas 80,6 Persen Saham, Semen Indonesia Jadi  Raja di Asean

Industri semen domestik memasuki babak baru setelah LafargeHolcim Ltd. melepas kepemilikan 80,6% saham di PT Holcim Indonesia Tbk. kepada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk  yang diproyeksikan mengubah peta persaingan produsen baik di dalam negeri maupun global.
Annisa S Rini/M.G. Noviarizal Fernandez/ M Nurhadi Pratomo
Annisa S Rini/M.G. Noviarizal Fernandez/ M Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 14 November 2018  |  12:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Industri semen domestik memasuki babak baru setelah LafargeHolcim Ltd. melepas kepemilikan 80,6% saham di PT Holcim Indonesia Tbk. kepada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk  yang diproyeksikan mengubah peta persaingan produsen baik di dalam negeri maupun global.

Akusisi saham Holcim menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu (14/11/2018). Berikut laporannya.

Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) Hendi Prio Santoso mengklaim akuisisi akan membuat perseroan menjadi produsen semen terbesar di Asia Tenggara dan semakin mengukuhkan posisi perseroan sebagai pemimpin pasar semen di dalam negeri.

Pasalnya, kapasitas produksi akan naik menembus 53 juta ton per tahun. Artinya, Semen Indonesia bakal masuk dalam jajaran 10 produsen semen terbesar di dunia, dari sisi total kapasitas produksi.

“Akuisisi ini akan memperkuat jaringan penjualan dan produksi yang lebih luas, meningkatkan kemampuan untuk menawarkan produk yang semakin beragam bagi para pelanggan, serta menawarkan berbagai peluang yang lebih baik bagi para karyawan, pemasok, para rekanan dan pemangku kepentingan perusahaan,” paparnya, Selasa (13/11/2018).

Pada kuartal I/2018, kapasitas produksi SMGR mencapai 36 juta ton per tahun, dari 32,2 juta ton pada 2017. Adapun, PT Holcim Indonesia Tbk. (SMCB) memiliki kapasitas produksi 14,8 juta ton per tahun atau terbesar ketiga di Indonesia pada kuartal pertama tahun ini.

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah menilai langkah Semen Indonesia akan memperkuat ketahanan produsen semen pelat merah di dalam negeri. Kondisi tersebut turut menjamin keberlangsungan pembangunan infrastruktur nasional.

“ Dapat meningkatkan volume ekspor Semen Indonesia ke Australia, Asia Selatan, dan negara Asia lainnya. Tahun ini, ekspor perseroan mencapai 3,1 juta ton,” paparnya, kemarin.

Semen Indonesia, awal pekan ini, secara resmi meneken perjanjian pengikatan jual beli bersyarat untuk mengambil alih 6.179.612.820 lembar saham atau 80,6% kepemilikan LafargeHolcim, melalui anak usahanya Holderfin B.V., di Holcim Indonesia. Nilai pembelian yang disepakati US$917 juta.

Menurut sumber Bisnis yang mengetahui transaksi tersebut, akuisisi itu bisa disebut sebagai bargain deal. Pasalnya, nilai yang diminta oleh LafargeHolcim pada saat awal yakni US$2 miliar untuk 100% kepemilikan.

Dengan demikian, lanjut sumber Bisnis, produsen semen pelat merah itu mendapat harga diskon. Selain itu, harga valuasi US$115 per ton jauh di bawah harga replacement costs untuk membangun pabrik semen baru seharga US$150 per ton.

Adapun, nilai US$917 juta atau setara Rp13,68 triliun (kurs Rp14.925/US$1) yang harus dibayar oleh Semen Indonesia, diperoleh dengan perhitungan 80,6% saham kepemilikan LafargeHolcim dikalikan dengan nilai perusahaan atau enterprise value (EV) Holcim Indonesia per 12 November 2018 sebesar Rp25,79 triliun dikurangi dengan net debt Rp8,66 triliun.

Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia Agung Wiharto menyebut transaksi akan dilakukan melalui anak usaha PT Semen Indonesia Industri Bangunan (SIIB).

“Sumber pendanaan akan berasal dari pinjaman sindikasi perbankan dalam dan luar negeri. Sudah ada komitmen dari perbankan,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (13/11/2018).

Sementara itu, Direktur Utama Indocement Tunggal Prakarsa Christian Kartawijaya mengatakan efisiensi biaya akan menjadi penentu keberlanjutan setiap produsen semen di tengah kondisi kelebihan pasokan dan persaingan harga yang ketat.

“Tentunya dengan langkah Semen Indonesia melakukan akuisisi kepemilikan LafargeHolcim, peta persaingan akan berubah. Semen Indonesia akan mempunyai tambahan posisi foot print yang signifikan di Jawa Barat, di tempat pasar utama kami. Mereka juga memperkuat posisi di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ujarnya.

Christian menjelaskan industri semen tengah mengalami tekanan akibat biaya batu bara yang naik 12%—15%, pelemahan rupiah terhadap dolar AS, serta kenaikan harga kantong kertas semen. Oleh karena itu, kenaikan harga jual harus dilakukan.

Dengan kelebihan pasokan hampir 40 juta ton, Asosiasi Semen Indonesia terus meminta pemerintah untuk menghentikan sementara pemberian izin pabrik baru, baik untuk investor baru maupun pemain lama.

Managing Director Lembaga Manage­ment Fakultas Ekonomi Universitas Indo­nesia Toto Pranoto menyebut akuisisi mem­beri peluang terciptanya efisiensi. “Ke depan tentu akan membuat harga jual produk menjadi lebih kompetitif.”

Sebaliknya, Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Achmad Sigit Dwiwahjono, menilai aksi korporasi Semen Indonesia tidak akan berdampak signifikan terhadap industri semen nasional.

Kapasitas terpasang industri semen nasional, tambahnya, juga tidak ada perubahan setelah aksi korporasi tersebut.

KPPU TUNGGU NOTIFIKASI

Sementara itu, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) akan melakukan penilaian atas akuisisi saham SMCB oleh Semen Indonesia.

Komisioner KPPU Chandra Setiawan mengatakan saat ini KPPU masih menunggu notifikasi transaksi saham antara kedua entitas tersebut. Adapun, notifikasi wajib dilakukan dalam waktu 30 hari sejak akuisisi efektif menurut hukum.

“Tentu akan dilakukan penilaian mendalam dan akan dinilai dampaknya apakah ada potensi terhadap penyalahgunaan posisi dominan ataukah akan mengurangi persaingan di relevant market-nya,” tuturnya.

Berdasarkan PP No. 57/2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak sehat, khususnya Pasal 3 Ayat 2, KPPU akan melakukan analisis pada beberapa aspek, yakni konsentrasi pasar, hambatan masuk pasar, potensi perilaku antipersaingan, efisiensi dan kepailit­an.  

Tag : holcim, semen indonesia
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top