Pemerintah Dorong Pertamina Produksi Green Diesel Mulai 2021

Pemerintah mendorong PT Pertamina (Persero) untuk dapat segera memproduksi bahan bakar ramah lingkungan, green diesel, dalam tiga tahun mendatang.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 16 November 2018  |  16:29 WIB
Pengendara mengisi bahan bakar di SPBU, di Jakarta, Senin (9/4/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemerintah mendorong PT Pertamina (Persero) untuk dapat segera memproduksi bahan bakar ramah lingkungan, green diesel, dalam tiga tahun mendatang.  
 
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan saat ini Pertamina sudah mulai melakukan kajian untuk merevitalisasi Kilang Plaju di Sumatra Selatan (Sumsel) dan Kilang Dumai di Riau untuk dapat memproduksi bahan bakar berbahan baku 100% minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) tersebut.  
 
"Kami dorong Pertamina. Mudah-mudahan, ini dalam 2-3 tahun sudah bisa ada realisasinya.  Tinggal harganya berapa, nanti kita lihat," ujarnya di Jakarta, Jumat (16/11/2018).
 
Menurut Jonan, green diesel memiliki kualitas lebih baik dibandingkan dengan bahan bakar jenis minyak diesel atau Solar dan biodiesel (B20). 

Cetane number atau angka setana green diesel jauh di atas setana bahan bakar jenis diesel lainnya yang ada di pasaran, yakni dapat mencapai 60-70. Semakin tinggi angka setana, akan lebih mudah terbakar dalam kompresi. 
 
Terkait masalah harga, dia belum bisa memprediksi apakah harga jualnya akan lebih mahal dari Solar atau biodiesel.  
 
"Belum tentu [lebih mahal], tergantung harga CPO-nya.  Tergantung harga dan pasoknya berapa," terangnya.
 
Pemanfaatan green diesel merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan impor Solar dan meningkatkan bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di sektor transportasi.  Pemerintah memiliki komitmen untuk memenuhi target bauran EBT 23% pada 2025.
 
Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, saat ini, pemerintah tengah fokus mendorong pemanfaatan B20, baik pada sektor Public Service Obligation (PSO) maupun sektor non PSO.  
 
Adapun Pertamina tengah melakukan studi kelayakan terhadap rencana revitalisasi kilang untuk pengolahan green diesel.  Untuk merealisasikan rencana tersebut, perusahaan pelat merah itu telah menandatangani nota kesepahaman kerja sama dengan perusahaan minyak dan gas bumi asal Italia, ENI S.p.A. 
 
ENI dijadikan sebagai mitra karena keberhasilannya dalam melakukan konversi kilang konvensional menjadi biorefinery di Porto Maghera pada 2014.
 
Sementara itu, pemilihan lokasi Kilang Dumai dan Plaju sebagai fasilitas pengolahan green diesel karena sejalan dengan lokasi yang berdekatan dengan sumber bahan baku energi hijau, kelapa sawit. Untuk bahan baku, Pertamina akan menjalin kerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara (Persero). 
 
Selain mengembangkan kilang untuk green diesel, Pertamina juga tengah menyiapkan pengembangan Refinery Development Master Plan (RDMP) pada Kilang Dumai.  Menurut Jonan, revitalisasi Kilang Dumai menjadi biorefinery tidak akan mengganggu proyek RDMP.
 
"Oh enggak [mengganggu].  Itu lain, beda," ucapnya.
 
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Pertamina Syahrial Muchtar menerangkan Kilang Dumai dan Plaju tetap akan memproduksi produk minyak. Jika nantinya ada kerja sama dengan ENI untuk menggarap green diesel, tetap tidak akan mengganggu kinerja produksi bensin.
 
Kan sifatnya ekspansi. Jadi yang sudah ada sekarang tidak terganggu, kami masih memproduksi gasoline,” sebutnya ketika dihubungi Bisnis.
 

Tag : pertamina, BBM
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top