Hutama Karya Bersiap Bangun Tol Pekanbaru—Bangkinang

Setelah memulai pembangunan jalan tol Padang—Sicincin pada Februari 2018, PT Hutama Karya (Persero) tengah mempersiapkan pembangunan ruas Pekanbaru—Bangkinang sepanjang 37 kilometer.
Irene Agustine
Irene Agustine - Bisnis.com 19 November 2018  |  08:43 WIB
Jalur Tol Trans Sumatra (ANT)

Bisnis.com, JAKARTA — Setelah memulai pembangunan jalan tol Padang—Sicincin pada Februari 2018, PT Hutama Karya (Persero) tengah mempersiapkan pembangunan ruas Pekanbaru—Bangkinang sepanjang 37 kilometer untuk dikerjakan dengan skema contractor pre-financing.

Jalan tol Pekanbaru—Bangkinang menjadi bagian dari proyek jalan tol Padang—Pekanbaru yang merupakan penghubung dari megaproyek jalan tol Trans-Sumatra yang membentang dari Aceh sampai dengan Lampung.

Adapun, pembangunan ruas tol Padang—Sicincin sepanjang 28 kilometer (km) dipastikan tidak terganggu dan tetap dilanjutkan berbarengan dengan rencana penyiapan ruas tol Pekanbaru—Bangkinang.

Dengan begitu, proyek jalan tol Padang—Pekanbaru dengan total panjang 244 km dan perkiraan investasi Rp78,09 triliun tersebut akan dimulai dari ujung-ujung ruas, yakni Padang dan Pekanbaru untuk dikerjakan bertahap sampai tersambung seluruhnya.

Direktur Keuangan Hutama Karya Anis Anjayani mengatakan bahwa rencananya perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT) ruas Pekanbaru—Bangkinang akan dilakukan pada awal tahun depan.

Saat ini, BUMN itu masih menyusun studi kelayakan proyek penghubung jalan tol Trans-Sumatra tersebut untuk menetapkan desain proyek sekaligus perkiraan investasinya.

“Selain kami mempersiapkan pembangunan Padang—Sicincin, kami juga lakukan hal yang sama untuk Pekanbaru—Bangkinang rencananya dengan skema CPF. Jadi, ujung dari Padang dan ujung dari Pekanbaru dulu yang dimulai,” kata Anis kepada Bisnis.com, Jumat (16/11/2018).

Sumber: Kementerian BUMN

Berbeda dengan skema pembiayaan konvensional lewat kredit investasi, pada contractor pre-financing (CPF) kontraktor pelaksana diminta supaya menyelesaikan proyek terlebih dahulu dengan dana pembangunan yang diusahakan oleh kontraktor tersebut baru kemudian hasilnya dibayar oleh badan usaha jalan tol, dalam hal ini Hutama Karya.

Menurut Anis, salah satu faktor pengerjaan proyek tersebut didorong dengan skema CPF karena ruas tersebut belum termasuk dalam daftar proyek Trans-Sumatra yang mendapatkan alokasi penyertaan modal negara senilai Rp10,50 triliun pada tahun depan.

Padahal, pembangunannya dinilai sangat dibutuhkan untuk menunjang jalur logistik, utamanya untuk menyambung proyek jalan tol Pekanbaru—Dumai yang pengerjaan konstruksinya ditargetkan rampung pada akhir 2019.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top