Nilai Industri Obat Hewan Tumbuh Hingga Dua Digit

Tiga lini utama industri obat hewan yakni poultry biological & pharma, pig-cattle biological & pharma dan feed supplement & feed add tumbuh menjadi Rp13,9 triliun.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 22 November 2018  |  22:05 WIB
Ilustrasi - telegraph.co.uk

Bisnis.com, JAKARTA — Dinamika pelemahan rupiah dan pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) sepanjang 2018 justru berdampak positif bagi obat hewan.

Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Irawati Fari mengatakan ada tiga lini utama industri obat hewan yakni poultry biological & pharma, pig-cattle biological & pharma dan feed supplement & feed add. Ira mengatakan tahun ini pertumbuhan industri itu melesat 67% menjadi Rp13,9 triliun dari capaian tahun lalu yang mencatatkan nilai Rp8,39 triliun.  Angka ini masih berpotensi meningkat mengingat 2018 masih menyisakan beberapa bulan lagi.

"Padahal pada tahun lalu kami cuma memprediksikan peningkatan berkisar di angka 10%. Tapi ternyata ini di luar ekspektasi, meningkat sampai Rp13,9 triliun," katanya.

Ira menjelaskan peningkatan yang signifikan itu dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama, karena pemerintah sudah merevisi data produksi yang berdampak pada koreksi biaya produksi dan sebagainya yang dilakukan oleh pelaku usaha.

Kedua, pelarangan AGP yang sebelumnya dianggap sebagai malapetaka justru meningkatkan kebutuhan pengganti non-AGP yang bernilai lebih tinggi. Selain itu, peternak secara konsisten juga meningkatkan penggunaan antibiotik sebagai terapi untuk mencegah penyakit.

Ketiga, yang tidak kalah penting adalah melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar yang menyebabkan harga obat hewan sebab bagaimana pun bahan baku untuk membuat obat masih harus diimpor. Menurutnya, akibat pelemahan rupiah harga obat rata-rata naik sebesar 10%.

Ira pun optimistis sampai dengan akhir tahun pasar obat hewan dalam negeri akan tumbuh lebih dari 10%, sedangkan proyeksi tahun lalu hanya sekitar 7%—10%. Pasalnya, dari segi populasi ayam saja meningkat demikian juga dengan kebutuhan vitamin dan obat ternak.

Misalnya saja pada sektor poultry biological & pharma yang pada tahun ini mencatatkan nilai Rp5 triliun. Hal ini karena terjadi peningkatan populasi sebesar 3,6 milliar ekor baik dari bibit ayam, layer, broiler, layer pejantan dan buras. Padahal tahun lalu hanya 3,2 juta ekor dengan nilai Rp3,2 triliun.

Begitu pun untuk sektor pig-cattle biological & pharma, terjadi peningkatan nilai sekitar Rp100 milliar. Ira menjelaskan pada 2017 nilainya sebesar Rp223 milliar sedangkan pada 2018 menjadi Rp361 milliar. Utamanya peningkatan disebabkan biaya konsumsi naik, seperti pada sapi perah itu Rp257.000/ekor/tahun dan sapi perah Rp249.000/ekor/tahun.

Sektor feed supplement & feed add pun menunjukan tren positif karena nilainya meningkat 50% dari Rp4,8 triliun pada 2017 menjadi Rp8,5 triliun. Penyebab utamanya, lanjut Ira, tidak lepas dari produsen pakan yang meningkatkan produksi dari 18,6 juta ton menjadi 19,6 juta ton.

Namun, Ira mengatakan para anggotanya patut mewaspadai perdagangan obat via daring karena itu dapat mendisrupsi pola distribusi yang selama ini dijalankan. Apalagi, obat-obat hewan yang dijual tidak menggunakan standar nasional dan belum teregerister.

Menurutnya, peredaran obat hewan ilegal ini bisa saja menjadi serius. Terutama belum adanya regulasi yang mengatur penjualannya via daring dan peternak tidak terlalu acuh dengan hal tersebut.

Tag : peternakan, hewan
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top