Iklannya Dinilai Rasis, Dolce & Gabbana Diprotes Konsumen China

Dolce & Gabbana harus memperbaiki nama baik mereka di China setelah kampanye yang dilakukan rumah mode Italia itu justru mendapat serangan dari masyarakat Negeri Panda.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 23 November 2018  |  13:48 WIB
Orang-orang melewati salah satu gerai Dolce & Gabbana di Shanghai, China, Kamis (22/11). - Reuters/Aly Song

Bisnis.com, JAKARTA – Dolce & Gabbana harus memperbaiki nama baik mereka di China setelah kampanye yang dilakukan rumah mode Italia itu justru mendapat serangan dari masyarakat Negeri Panda.

Pekan ini, Dolce & Gabbana (D&G) menayangkan video yang menunjukkan seorang model China berusaha makan pasta dengan sumpit. Video yang merupakan bagian dari kampanye #DGLovesChina dinilai rasis.

Sebelumnya, rumah mode tersebut juga meminta maaf setelah akun media sosial milik Stefano Gabbana, salah satu pendirinya, mengunggah konten yang mengkritisi warga China. Belakangan, akun tersebut diklaim telah diretas.

Dilansir dari BBC, Jumat (23/11/2018), beberapa e-commerce China sudah menarik produk D&G dari pasar, seperti Secoo Holding dan Kaola.

Associate Director of Research Mintel Alina Ma mengatakan iklan D&G membuat konsumen China bingung karena seakan-akan menggambarkan bahwa perusahaan itu tidak memahami mereka.

“Mereka ingin brand yang memahami mereka, yang membuat mereka merasa penting,” paparnya.

Dampak kampanye tersebut dalam jangka panjang akan ditentukan oleh bagaimana D&G mengatasi masalah ini. Adapun Mintel adalah perusahaan konsultan pasar.

Ma melanjutkan jika D&G bisa menunjukkan kalau mereka ingin memahami dan membuat konsumen China merasa lebih baik dengan tulus, maka bisa jadi bisnis perusahaan tersebut akan kembali naik di negara itu.

Ini bukan kali pertama D&G menuai kontroversi di Tiongkok. Pada April 2018, brand ini menampilkan poster yang menggambarkan masyarakat miskin di area kumuh Beijing bersama dengan model-model D&G.

Sekitar dua tahun lalu, perusahaan itu juga menjadi perhatian setelah merilis sandal yang disebut sebagai “sandal budak” dalam koleksi musim semi/panasnya.

China adalah salah satu pasar terbesar untuk brand-brand mewah. Laporan dari perusahaan konsultan Bain dan asosiasi manufaktur Italia Altagamma menyebutkan penjualan barang mewah diproyeksi tumbuh 20% secara year-on-year (yoy) pada 2018.

Porsi pasar China diperkirakan mencapai 46% dari penjualan global pada 2025, dari saat ini yang sekitar 33%. Pada 2018, nilai pasar barang mewah diprediksi menyentuh US$294 miliar.

Brand mewah lainnya yang menyasar pasar China antara lain Louis Vuitton, Christian Dior, dan Moncler.

Sumber : BBC

Tag : ritel, barang mewah
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top