Delegasi Indonesia Harus Atraktif dalam Konferensi COP-24

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menegaskan delegasi Indonesia yang akan hadir dalam konferensi perubahan iklim COP-24 di Katowice, Polandia, untuk lebih atraktif menunjukkan sejumlah pencapaian dan progres kerja Indonesia menjaga suhu global.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 24 November 2018  |  07:11 WIB
Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya (berjaket biru) saat meninjrau kondisi perhutanan sosial di Kawasan Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang, Rabu (21/11/2018). - Bisnis/Dinda Wulandari

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menegaskan delegasi Indonesia yang akan hadir dalam konferensi perubahan iklim COP-24 di Katowice, Polandia, untuk lebih atraktif menunjukkan sejumlah pencapaian dan progres kerja Indonesia menjaga suhu global.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyatakan Indonesia sudah tergabung dalam banyak konferensi terkait perubahan iklim telah menunjukkan sejumlah aksi konkret antara lain pengenalian kebakaran hutan, penyelesaian status hutan adat, hutan sosial, dan restorasi gambut.

“Kita sekarang sudah harus lebih agresif lagi terutama untuk outreach ke internasional. Kenapa? Karena kita tidak omong kosong, rakyat Indonesia inisiatifnya banyak, inovasinya banyak. Coba deh kalau dilihat di pertemuan hari Rabu, Pojok Iklim, banyak sekali inovasinya. Makanya kebakaran bisa kita atasi,” kata Siti di Manggala Wanabakti, Jumat (23/11/2018).

Siti menjelaskan, Indonesia memiliki best practices untuk menjaga perubahan iklim sangat banyak. Misalnya saja di Kalimantan Timur itu sudah melaksanakan sustainability menggunakan pemanfaatan lahan dengan baik dan memperhatikan lingkungan.

Siti menerangkan, disana mereka mampu menahan karbon sampai lebih dari 30 juta ton. Apabila seluruh industri di Kaltim yang berjumlah lebih dari 2.000, maka bisa menahan sampai 300 juta ton.

“Bayangkan satu provinsi dilanjutkan provinsi lain kan sudah mulai. Kita punya mandat harus menyelesaikan 2,8 Giga Ton sampai 2030. Sekarang sudah 890 jutaan. Berarti sebetulnya kita maju dalam perjalanannya, dan ini seharusnya, segala macam modal praktek yang ada, itu seharusnya bisa diceritakan, bahkan orang bule sana lebih agresif lagi. Jadi kita bukan hanya aware bersikap, kita aware dan waspada, memahami, lalu bersikap, dan itu sudah harus advokasi perlunya seperti apa,” ujar Siti.

Sebagai informasi, pertemuan para negara pihak UNFCCC ke-24 ini akan dilaksanakan di Katowice, Polandia pada 2-14 Desember 2018. Forum itu akan membuka sejumlah perundingan di luar negosiasi, dan Indonesia bisa menunjukkan sejumlah program dan aksi yang sudah dilakukan untuk pengendalian iklim.

Adapun agenda-agenda di Pavillion Indonesia bisa dimanfaatkan untuk menunjukkan progress yang dilakukan oleh seluruh lapisan di Indonesia. Siti pun menegaskan, bahwa Indonesia berkomitmen dengan penjagaan suhu global agar tidak meningkat lagi, melebihi 1,5 derajat Celsius.

Tag : perubahan iklim
Editor : Gloria Fransisca Katharina Lawi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top