Asa Baru dari Sayap Merpati

Keberhasilan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) mencapai perdamaian (homologasi) dalam perkara Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) beberapa waktu lalu menumbuhkan asa baru bagi sektor logistik.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 26 November 2018  |  16:11 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Keberhasilan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) mencapai perdamaian (homologasi) dalam perkara Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) beberapa waktu lalu menumbuhkan asa baru bagi sektor logistik.

Seperti yang diberitakan Bisnis, maskapai berhenti beroperasi sejak Februari 2014 tersebut terbebas dari ancaman pailit setelah proposal perdamaian yang diajukan diterima oleh sebagian besar krediturnya. Majelis Hakim Pengadilan Niaga Surabaya menyatakan perdamaian telah sah pada 14 November 2018.

Berdasarkan catatan Bisnis, tagihan yang dimiliki Merpati mencapai Rp10,72 triliun, sedangkan aset Rp1,21 triliun. Kewajiban tersebut bertambah karena pada sidang PKPU, majelis hakim menghukum debitur PKPU untuk membayar biaya kepengurusan Rp487 juta dan menetapkan debitur untuk membayar tunggakan jasa pengurus sebesar Rp20 miliar.

Dasar utama putusan tersebut adalah status Merpati sebagai BUMN yang menjalankan kepentingan publik. Selain itu, kemunculan Intra Asia Corpora sebagai investor yang akan mendukung operasional juga dipertimbangkan.

Memang, injeksi modal yang akan didapatkan oleh Merpati harus melalui beberapa tahap. Bila izin melepas saham sudah didapat, izin untuk operasional maskapai dikantongi, maka masuk modal pertama Rp1,3 triliun dari komitmen total sebesar Rp6,4 triliun.

Belum lagi, Merpati harus menempuh prosedur perizinan yang dilakukan layaknya maskapai baru. Proses izin usaha angkutan udara melalui permohonan melalui Lembaga On Line Single Submition (OSS).

Pemohon harus memiliki terlebih dahulu nomor induk berusaha (NIB) dan izin usaha yang belum berlaku efektif. Izin usaha akan berlaku efektif apabila pemohon telah memenuhi komitmen persyaratan administrasi dan persyaratan teknis berupa rencana usaha atau business plan.

Permohonan disetujui setelah memenuhi persyaratan tersebut dan membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Adapun, proses perizinan selama 30 hari kerja setelah berkas diterima lengkap.

Pesawat Buatan Rusia

Setelah mendapatkan izin usaha, perusahaan dapat beroperasi atau melakukan kegiatan angkutan udara setelah memiliki Air Operator Certificate (AOC) sesuai ketentuan berlaku. Di sisi lain, hal yang harus disiapkan untuk mengaktifkan lagi SIU AU harus mengacu pada Permenhub No. 25/2008 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara.

Sebelumnya, Presiden Direktur Merpati Nusantara Airlines Asep Ekanugraha menyebut pesawat yang akan digunakan saat beroperasi adalah buatan pabrikan asal Rusia dengan tipe Irkut MC-21. Pesawat tersebut memang belum banyak dikenal di Tanah Air.

Kendati demikian, pesawat tersebut diklaim memiliki harga 40% lebih murah dibandingkan dengan pesaingnya seperti Boeing 737 atau Airbus 320. Pesawat jet bermesin ganda tersebut memiliki kapasitas penumpang antara 132 hingga 163 seat.

Berbicara soal logistik udara, pasti berhubungan dengan kapasitas kargo yang dimiliki oleh pesawat pengangkutnya. Kapasitas kargo Irkut MC-21 sebesar 49 m3, sedangkan pesaingnya yakni Boeing 737-800 sekitar 44 m3 dan Airbus 320 sebesar 37,4 m3.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kapasitas kargo yang sanggup diangkut oleh Irkut ternyata lebih banyak. Dampaknya, biaya logistik akan semakin efisien.

Apalagi jika Merpati kembali memfokuskan dirinya untuk menerbangi rute-rute bagian Timur Indonesia. Biaya logistik yang menjadi momok para pelaku usaha di kawasan tersebut akan bisa ditekan karena maskapai yang beroperasi semakin bertambah.

Jika menilik pada kebutuhan panjang landasan yang digunakan untuk lepas landas (take off run) ketiga pesawat tersebut, MC-21 hanya membutuhkan panjang runway hingga 2.000 meter. Sementara untuk Boeing 737-800 sekitar 2.308 meter dan Airbus 320 hingga 2.100 meter.

Kemampuan tersebut bisa digunakan untuk mendarat di bandara wilayah Timur yang sebagian besar memiliki runway dengan panjang di bawah 2.500 meter.

Wakil Ketua Umum Angkutan Udara Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jakarta Arman Yahya menyebut selama ini hanya ada dua maskapai yang beroperasi, yakni Garuda Indonesia Group dan Lion Air Group.

Pihaknya adalah salah satu pengusaha logistik yang menunggu Merpati kembali beroperasi. Adanya pemain baru bisa menjadikan kompetisi semakin ketat, dengan peningkatan pelayanan dan harga yang bersaing.

"Dampaknya akan sangat positif. Maskapai yang pelayanannya kurang optimal, harus memperbaiki agar tidak kalah bersaing," kata Arman.

Pihaknya menyebut selama ini yang menjadi pusat pengiriman barang di wilayah Timur adalah Surabaya, Makassar, dan Manado. Dari ketiga lokasi tersebut, barang akan didistribusikan ke wilayah yang lebih terpencil.

Operasional Merpati kemungkinan memang belum bisa dilakukan dalam waktu dekat. Selain masalah perizinan, ada beberapa tahapan yang harus diselesaikan seperti penyelesaian kewajiban kepada kreditur hingga pembelian pesawat.

Hal tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat. Namun, tidak ada salahnya kita untuk berharap.

Tag : merpati, penerbangan
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top