Ekspor Kayu Olahan Tahun Ini Diperkirakan Stagnan

Pelaku usaha kayu olahan menilai suasana ekonomi global yang tidak stabil telah mempengaruhi kinerja ekspor dari produksi kayu olahan tidak akan bertumbuhn signifikan dari tahun lalu, yakni US$2,1 miliar.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 28 November 2018  |  20:32 WIB
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha kayu olahan menilai suasana ekonomi global yang tidak stabil telah mempengaruhi kinerja ekspor dari produksi kayu olahan tidak akan bertumbuhn signifikan dari tahun lalu, yakni US$2,1 miliar.

Ketua Asosiasi Industri Kayu Gergajian dan Kayu Pertukangan Indonesia (ISWA) Soewarni menyatakan situasi ekonomi dunia yang tahun ini tidak terlalu baik telah memberi dampak bagi pencapaian produksi ekspor kayu olahan. Pasalnya, sampai dengan triwulan III/2018 ini saja volume ekspor kayu olahan sudah mencapai 4,1 juta m3 dengan nilai US$1,6 miliar. 

“Kami menargetkan sampai akhir tahun setidaknya sama dengan tahun 2017, yaitu US$2,1 miliar, karena ekonomi global sedang tak bagus, sehingga harga komoditas kurang bagus, harga tidak naik, bahkan cenderung turun,” ujar Soewarni kepada Bisnis, Rabu (28/11/2018). 

Dia menyatakan, dengan waktu yang tersisa tak sampai satu bulan ini, Soewarni mengaku masih optimistis mengejar sisa US$0,5 miliar tersebut. Soewarni juga menceritakan terkiat ketersediaan bahan baku, khusus hutan alam untuk produk kayu olahan memang susah didapatkan. Misalnya saja kayu sengon, sementara harga sengon masih mahal.

“Sedangkan harga jual ekspor dari sengon itu terpuruk, oleh karena itu masih ada wacana ekspor log, ISWA menolak dan tidak setuju, itu merupakan langkah mundur,” terangnya.

 Bisnis mencatat, sejak 2017 lalu, ISWA memang aktif melayangkan surat keberatan kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atas wacana ekspor kayu bulat.

Menurut para anggota ISWA, gagasan membuka kran ekspor log  tidak tepat, karena sebagian besar anggota ISWA adalah usaha kecil dan menengah juga padat karya. Kebijakan itu akan mengakibatkan kekurangan bahan baku kayu.

Selain itu, ekspor kayu gelondongan juga menjadi aksi mundur karena pemerintah telah mendorong penghiliran untuk meningkatkan nilai tambah dan dampak berganda. Pertimbangan lain adalah karena kebijakan pembukaan kran ekspor akan menguntungkan negara importir yang telah lama menunggu kebijakan itu untuk memenuhi pasokan bahan baku industri mereka.

Tag : kehutanan, kayu
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top