Balai Riset dan Standardisasi Industri Surabaya Fokus Riset Berbasis Industri 4.0

seiring perubahan berbagai sektor untuk menyambut era revolusi industri 4.0, Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri Surabaya kian fokus memacu riset dan pengembangan industri elektronika dan telematika.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 01 Desember 2018  |  19:59 WIB
Ilustrasi logo revolusi industri 4.0. - Reuters/Wolfgang Rattay

Bisnis.com, JAKARTA--Seiring perubahan berbagai sektor untuk menyambut era revolusi industri 4.0, Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri Surabaya kian fokus memacu riset dan pengembangan industri elektronika dan telematika.

 Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara di Jakarta mengatakan pihaknya aktif memberikan arahan kepada balai-balai di lingkungan Kemenperin untuk merevitalisasi komponen-komponen di dalamnya seperti peralatan laboratorium serta mendorong kegiatan riset berbasis industri 4.0 guna memastikan implementasi industri 4.0 bisa mencapai sasaran.

 Menurutnya, hasil-hasil litbang dan inovasi dari Kemenperin banyak yang telah dimanfaatkan oleh para pelaku industri di dalam negeri. Selain itu, hasil litbang terus dikembangkan melalui kerja sama dengan para stakeholder secara berkesinambungan demi meningkatkan daya saing sektor manufaktur nasional, khususnya industri elektronika dan telematika

 “Apalagi industri elektronika menjadi satu dari lima sektor manufaktur yang dipilih sebagai pionir dalam penerapan industri 4.0 sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0,” tambah Kepala Baristand Industri Surabaya, Siti Rohmah Siregar.

 Siti menyampaikan sektor-sektor yang mendapat prioritas pengembangan di era industri 4.0, telah memiliki kesiapan dan berpotensi memberikan daya ungkit yang paling besar tehadap capaian aspirasi yang telah ditetapkan. “Aspirasi besarnya adalah mewujudkan Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia pada tahun 2030,” imbuhnya.

 Berdasarkan data Kemenperin, jumlah industri elektronika di Indonesia sebanyak 67 perusahaan pada tahun 2017 atau tumbuh dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 57 perusahaan. Tahun ini, diproyeksi ada peningkatan investasi, sehingga populasinya akan bertambah hingga 72 perusahaan.

 Sementara itu, total penyerapan tenaga kerja di industri elektronika pada tahun 2017 sebanyak 202 ribu orang, naik dibanding tahun 2016 yang mencapai 185 ribu orang dan tahun 2015 sekitar 164 ribu orang.

 “Pada tahun 2030, sasaran Indonesia mampu membangun kemampuan industri elektronika lokal untuk menjadi manufaktur komponen lanjutan atau menghasilkan produk bernilai tambah tinggi sehingga dapat mengurangi impornya,” ungkap Siti.

 Adapun lima kegiatan Baristand Industri Surabaya yang menghasilkan litbang unggulan, yakni membuat otomasi pemutus tegangan puncak jala-jala listrik pada pengujian plug discharge SNI IEC 60335. Alat ini digunakan sebagai alat bantu pengujian tegangan sisa (plug discharge) yang berupa alat pemutus tegangan peranti ketika di puncak gelombang sinusnya.

 Kedua, melakukan rekayasa pembuatan shielding interferensi elektromagnetik dari limbah industri dari nikel dan tembaga. Alat ini berfungsi untuk mengolah pemanfaatan limbah cair industri printed circuit board (PCB) khususnya tembaga dan nikel.

 Ketiga, membuat alat pemantauan suhu pada proses fermentasi tembakau dengan menggunakan platform Internet of Things (IoT). Keeempat, merancang sistem pemantauan parameter pH dengan menggunakan platform IoT – cloud. Alat ini dapat mengirim data secara realtime, cepat, akurat dan dapat diakses dengan mudah.

 Dan, kelima, merancang bangun prototipe penggerak hybrid (PV+Diesel) untuk kapal nelayan. Alat ini merupakan prototipe daya hybrid dengan menggabungkan sumber energi panas matahari dan diesel yang digunakan untuk penggerak perahu nelayan sehingga dapat menekan konsumsi bahan bakar minyak dengan tidak mengubah konstruksi kapal.

 Siti menambahkan, dalam upaya penerapan industri 4.0, Baristand Industri Surabaya sudah menjalankan jasa pelayanan teknis ke pelaku industri dengan menggunakan teknologi informasi. Misalnya, ketika penerimaan sampel uji bisa langsung masuk ke sistem informasi laboratorium. “Sistem informasi kami ini sudah menerima penghargaan Top Inovasi 99 dari Kementerian PAN dan RB,” ujarnya.

Tag : kemenperin
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top