Pengurangan KJA Diklaim Turunkan Produksi Ikan Air Tawar

Produksi ikan air tawar di Indonesia cenderung menurun disebabkan penggusuran keramba jaring apung di waduk dan danau.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 01 Desember 2018 07:29 WIB
Nelayan memanfaatka perairan Danau Rawa Pening untuk membudidayakan ikan air tawar dengan media karamba di Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Jumat (12/1). - ANTARA/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA -- Produksi ikan air tawar di Indonesia cenderung menurun disebabkan penggusuran keramba jaring apung di waduk dan danau.
 
Sejumlah daerah memang tengah mengkaji pengurangan Keramba Jaring Apung (KJA) di waduk dan danau karena dianggap sebagai penyebab utama pencemaran air. Padahal, hasil riset yang dilakukan oleh Pusat Riset Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa sumber pencemaran dari budidaya perikanan relatif rendah jika dibandingkan dengan sumber pencemar lainnya dari hulu dan Daerah Aliran Sungai (DAS).
 
Dalam "Forum Aquatica Asia dan Indoaqua 2018", anggota asosiasi Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Anang Hermanta menyampaikan bahwa saat ini para pembudidaya KJA sudah menyadari bahwa mereka perlu ditata dan dibina  agar budidaya yang dilakukan berkelanjutan. 
 
“Mereka sangat merasakan bahwa air adalah ladang hidup mereka yang harus dijaga kelestariannya,” tuturnya, Jumat (30/11/2018).

Namun, tidak disebutkan secara pasti berapa besar penurunan produksi yang terjadi.
 
Anang mengaku anggota GPMT juga melakukan upaya yang sama, misalnya mengembangkan pakan apung yang ramah lingkungan sehingga pakan tidak jatuh ke dasar perairan, membuat pakan yang rendah fosfor, serta mengajarkan feeding management yang baik kepada para pembudidaya. Upaya lainnya adalah melakukan bersih-bersih waduk secara berkala. 
 
Selama ini, KJA merupakan penyokong terbesar produksi ikan budidaya nasional. KJA juga dinilai memberikan multiplier effect bagi usaha lainnya.

Oleh karena itu, dia memandang penggusuran total KJA akan menjadi masalah bagi produksi ikan nasional dan stakeholder budidaya.
 
"Mengingat manfaatnya yang begitu besar, sebaiknya kita bersama-sama menata KJA, membina pembudidaya KJA, mengatur kembali sesuai dengan daya dukungnya, agar KJA ini menjadi usaha budidaya yang berkelanjutan jangan malah di-zero-kan," imbuh Anang.

Di sisi lain, GPMT mengapresiasi upaya KKP terkait ketersediaan tepung ikan lokal dan kebijakan pemberantasan illegal fishing. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti disebut telah menyampaikan kepada Kementerian Pertanian (Kementan) agar ketersediaan bahan baku seperti dedak padi dan gaplek dijamin produksinya di dalam negeri.
 
Sebelumnya, Susi telah menyatakan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia adalah air sehingga seharusnya usaha perikanan menjadi basis perekonomian utama dan harus didukung semua pihak.
 
“Meskipun budidaya perikanan sangat dibutuhkan dan harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan, sustainable aquaculture is a must,“ tegasnya kepada sejumlah asosiasi perikanan di "Forum Aquatica Asia dan Indoaqua 2018". 
 
Susi juga menyarankan agar kegiatan budidaya KJA bisa saling mendukung sektor yang lain, contohnya pariwisata. Misalnya, dengan membentuk kawasan Aqua Wisata, seperti Agro Wisata yang saat ini sedang dikembangkan. 

Tag : perikanan budidaya, ikan air tawar
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top