Grant Thornton: Pelaku Bisnis Berharap Infrastruktur Tetap Prioritas Utama

Para pelaku bisnis di Indonesia mengharapkan pembangunan infrastruktur terus menjadi prioritas pembangunan. Sebanyak 58% dari pelaku bisnis itu mengharapkan pembangunan infrastruktur lokal benar-benar direalisasikan.
Fatkhul Maskur
Fatkhul Maskur - Bisnis.com 03 Desember 2018  |  12:00 WIB
Pekerja menyelesaikan proyek pelebaran lajur di ruas jalan tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi) Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/10/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Para pelaku bisnis di Indonesia mengharapkan pembangunan infrastruktur terus menjadi prioritas pembangunan. Sebanyak 58% dari pelaku bisnis itu mengharapkan pembangunan infrastruktur lokal benar-benar direalisasikan.

Ini berdasarkan survei Grant Thornton International Business Report (IBR) di kawasan Asia Tenggara (Asean) yang dirilis per kuartal.

Di laporan tersebut, Grant Thornton menyelami faktor-faktor apa saja yang menjadi pendorong tingginya optimisme bisnis dan menemukan fakta bahwa infrastruktur muncul sebagai peluang utama bagi kebanyakan pelaku bisnis di Asean.

Menurut IBR per kuartal IV 2018, sebanyak 42% pelaku bisnis di kawasan Asean meyakini infrastruktur mendorong prospek pertumbuhan bisnis di kawasan, serta mendukung terciptanya sarana untuk meningkatkan kesejahteraan.

Keyakinan ini didorong pesatnya urbanisasi, terutama untuk mendukung kebutuhn transportasi dan pergerakan barang. Pertumbuhan populasi rata-rata di berbagai negara di Asean periode 2015-2020 tercatat lebih dari 1%. Namun, di perkotaan pertumbuhan tersebut diperkirakan lebih besar; lebih dari dua kali lipat.

Kurniawan Tjoetiar, Partner-Business Advisory/Legal Services Grant Thornton Indonesia, mengungkapkan 58% dari total responden (para pelaku bisnis di Indonesia) mengharapkan pembangunan infrastruktur lokal benar-benar direalisasikan. Sedangkan di Filipina hasilnya hanya 48% dari responden.

Di Indonesia lebih besar akibat kebijakan pemerintah Presiden Joko Widodo yang pada 2016 menguraikan agenda pembangunan yang mana US$ 327 miliar akan dialokasikan untuk mengembangkan berbagai proyek prasarana atau infrastruktur termasuk jalan, bandar udara, dan jaringan kereta api.

"Keinginan tinggi untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia mencerminkan kebijakan pemerintah. Dana signifikan dialokasikan untuk membiayai pembangunan infrastruktur, dan para pelaku bisnis sangat menantikan berbagai peluang dari infrastruktur yang bertambah baik, ujar Kurniawan dalam keterangan pers yang diterima Bisnis, Senin (3/12/2018).

Secara umum, survei Grant Thornton ini menyatakan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Pasifik pesat, yang didorong kinerja berbagai negara di Asean. Yang mana negara-negara ini memiliki prospek pertumbuhan lebih dari 5% hingga 2022.

Optimisme di kalangan pelaku bisnis di Asean juga mencapai level baru, yakni 64%. Ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata optimisme diAsia Pasifik yang berada di level 55% dan Gglobal di 54%.

Meski optimisme bisnis terhitung tinggi, di saat sama ada kekhawatiran terhadap perubahan iklim, serta dampak bencana alam yang belakangan ini juga dianggap sebagai ancaman nyata, selain ancaman konflik antarwilayah.

Namun, para pelaku bisnis tetap meyakini kerja sama antarwilayah Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mampu mengatasi berbagai risiko yang disebabkan faktor lingkungan tersebut.

Kerja Sama Antar-Wilayah Prioritas

Selain pentingnya infrastruktur, pelaku bisnis di Asean juga setuju bahwa peningkatan kerja sama ekonomi Asean adalah peluang terbesar berikutnya untuk kawasan Asia Pasifik. Ini disetujui oleh 36% dari total responden.

Kerja sama antarwilayah yang semakin gencar sejak MEA ditetapkan pada 2015, dipandang semakin penting. Seperti Asean dengan China meski ada masalah perbatasan di Laut China Selatan.

Apalagi China dan negara-negara Asean menyepakati rancangan kode etik pada awal tahun ini untuk menyelesaikan perselisihan perbatasan tersebut. Hal ini menunjukkan kemajuan menggembirakan. Namun, pelaku bisnis membutuhkan lebih banyak kepastian sebelum konflik antarkawasan benar-benar reda.

Peluang bisnis di Asean sangat signifikan, khususnya untuk bisnis yang terlibat dalam perbaikan infrastruktur digital dan fisik yang mendukung gelombang baru pembangunan. Karena itu, hubungan ekonomi dan bisnis di seluruh Asean perlu dipastikan bebas konflik agar tercipta kerja sama antarwilayah yang posifif, kata Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia.

"Penelitian kami juga mengidentifikasi bahwa kerja sama yang mampu mengembangkan potensi sumber daya di tiap negara diperlukan untuk mengurangi tantangan bisnis di masa depan. Hal tersebut akan meletakkan fondasi kuat untuk pertumbuhan yang berkelanjutan," pungkas Johanna Gani.

Grant Thornton adalah satu organisasi global yang menyediakan jasa audit, tax, dan advisory. Hadir di lebih dari 130 negara dengan 47.000 tim, Grant Thornton fokus untuk berkontribusi bagi klien, kolega, dan masyarakat lokal. KAP Gani Sigiro & Handayani adalah member firm Grant Thornton di Indonesia.

Tag : proyek infrastruktur
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top