Arcandra Tahar: Energi Bukan Lagi Sebatas Komoditas, Tapi Penggerak Perekonomian

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar kembali menekankan target capaian bauran energi baru terbarukan merupakan penentu tercapainya kedaulatan energi di Indonesia. Untuk itu, paradigma pengelolaan energi juga harus berubah.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 04 Desember 2018  |  21:43 WIB
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengumumkan perusahaan Hong Kong Jindi Group memenangkan lelang wilayah kerja South Jambi B dan PT Minarak Brantas Gas memenangkan lelang wilayah kerja Banyumas, di Jakarta, Senin (22/10/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar kembali menekankan target capaian bauran energi baru terbarukan merupakan penentu tercapainya kedaulatan energi di Indonesia. Untuk itu, paradigma pengelolaan energi juga harus berubah.

Menurutnya, kedaulatan energi menjadi keharusan karena pemenuhan energi dari dalam negeri akan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, terutama yang berasal dari minyak dan batu bara.

"Kapasitas terpasang EBT [energi baru terbarukan] kita terus meningkat dan paradigma pengelolaan energi nasional harus berubah, dari energi sebagai komoditas ke energi sebagai penggerak roda ekonomi. Melimpahnya sumber energi baru dan terbarukan di Indonesia selayaknya bisa dimanfaatkan secara optimal," kata Arcandra, dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Selasa (4/12/2018).

Lebih lanjut Arcandra menjelaskan, salah satu tantangan pengembangan EBT saat ini adalah mahalnya teknologi yang banyak diimpor dari luar negeri. Untuk itu penguasaan teknologi juga harus mendapatkan prioritas sehingga tidak lagi tergantung pada teknologi luar negeri.

"Kalau kita belum memiliki teknologi, boleh kan kita menggunakan teknologi yang ada dari luar negeri. Kemudian kita belajar untuk menutupi gap [celah ketertinggalan] tersebut," kata Arcandra.

Pemanfaatan energi secara maksimal dengan harga yang terjangkau sejalan dengan visi misi pembangunan sektor energi yang diusung oleh pemerintah, yaitu energi berkeadilan.

Sebagai informasi, hingga September 2018, kapasitas terpasang pembangkit EBT yang dibangun dengan APBN mencapai 62,4 gigawatt. Sementara kapasitas pembangkit panas bumi sebesar 1.948,5 megawatt (MW).

Kapasitas terpasang dari PLTS, PLTMH, dan PLTB mencapai 315,1 MW ditambah 75 MW dari PLTB Sidrap. Dari subsektor bioenergi, kapasitas pembangkit yang terpasang sebesar 1.857,5 MW, terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa, Biogas, Sampah Kota dan BBN, yang sebagian besar merupakan PLT off-grid.

Tag : energi terbarukan
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top