Masa Penyimpanan Biosolar Tidak Bisa Lama

Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia, ASPINDO, menyebut pemerintah sudah menerbitkan Petunjuk Teknis penanganan biodiesel/biosolar danmelakukan sosialisasi di Jakarta dan berbagai kota di Indonesia.
Anitana Widya Puspa | 08 Desember 2018 03:25 WIB
Pekerja melakukan perawatan alat berat articulate dump truck di workshop PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (25/9/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia, ASPINDO, menyebut pemerintah sudah menerbitkan Petunjuk Teknis penanganan biodiesel/biosolar danmelakukan sosialisasi di Jakarta dan berbagai kota di Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif ASPINDO, Bambang Tjahjono, dalam salah satu rekomendasinya untuk penyimpanan biosolar adalah 3 bulan. Akan tetapi tidak ada petunjuk bagaimana menangani biosolar setelah 3 bulan.

Padahal, sebut dia, beberapa proyek di daerah pelosok perlu menyimpan stok BBM lebih dari 3 bulan karena kesulitan pasokan BBM yang bergantung pasang surut sungai.

“Bahkan kalau kami lihat, hampir semua bangunan gedung (perkantoran, apartemen terutama rumah sakit) mempunyai genset cadangan, yang bahan bakarnya bisa lebih dari 3 bulan, bahkan 1 tahun belum habis,” katanya,  dikutip Jumat (7/12/2018).

B20 jika disimpan lama dapat merusak mesin karena ada endapan. Ini berbeda dengan penyimpanan solar atau B0 di tangki, yang bisa bertahan sampai dengan lima tahun.

Dia berharap pemerintah segera mengatasi hal ini. Apalagi saat ini sekitar 50 kontraktor dari 117 perusahaan tambang di bawah naungan Aspindo telah menggunakan B20, dan mereka diwajibkan menggunakan bahan bakar ini oleh pemerintah.

"Sebulan itu kira-kira kami pakai sekitar 250 kiloliter, jadi setahun 3.000 kiloliter. Tapi kalau dibandingkan untuk seluruh industri, tambang menjadi pengguna terbesar," katanya.

Tag : biosolar, Mandatori B20
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top