Heru Dewanto Ketua Umum PII 2018-2021

Kongres Nasional XXI Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengukuhkan Heru Dewanto sebagai Ketua Umum PII periode 2018-2021, menggantikan Hermanto Dardak. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum periode 2015-2018.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 08 Desember 2018  |  18:24 WIB
Persatuan Insinyur Indonesia - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Kongres Nasional XXI Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengukuhkan Heru Dewanto sebagai Ketua Umum PII periode 2018-2021, menggantikan Hermanto Dardak. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Wakil Ketua Umum periode 2015-2018.

Anggaran Dasar dan Anggaran rumah Tangga (AD/ART) PII mengatur Wakil Ketua Umum organisasi profesi insinyur secara otomatis dapat menjadi Ketua Umum periode berikutnya. Setelah menjalankan tugas selama 3 tahun, Danis Hidayat Sumadilaga terpilih menjadi wakil ketua.

Heru Dewanto merupakan Presiden Direktur Cirebon Power, konsorsium pembangkit listrik dengan total kapasitas 660 MW dan 1.000 MW di Cirebon.  Heru juga menyandang gelar Doktor Manajemen Strategis dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan alumni University of Leeds, Inggris.

Heru menyatakan, pada masa kepemimpinannya akan fokus untuk mendukung penuh pembangunan negeri dengan mendukung penuh pembangunan infrastruktur demi menghubungkan ribuan pulau untuk menyatukan negeri, menerangi pertiwi dan mencerdaskan bangsa.

“PII berperan untuk turut menciptakan lapangan pekerjaan, mensejahterakan rakyat, dan membuka cakrawala dunia, guna memajukan peradaban. Insinyur Indonesia adalah ujung tombak kemajuan bangsa,” katanya melalui siaran pers yang diterima Bisnis, Sabtu (8/12/2018).

Heru juga menegaskan, dia akan befokus pada peningkatan kompetensi dan profesionalitas insinyur Indonesia, menyelenggarakan sertifikasi insinyur sesuai amanat UU no 11 tahun 2014 tentang Keinsinyuran, dan membangun data base insinyur nasional.

“Dengan kompetensi profesi insinyur yang maju, dan data base insinyur nasional, akan menjadi modal besar untuk menghadapi kompetisi insinyur global. Kita harus menjadi tuan di rumah sendiri, insinyur Indonesia harus berperan penuh dalam pembangunan infrastruktur yang masif saat ini’ tutur Heru.

PII berupaya menyetarakan insinyur Indonesia dengan negara yang lain. Heru menyebutkan, di ASEAN, mobilitas insinyur sudah menggunakan ASEAN Charter Professional Engineer. Sertfikasi tersebut akan membuat kesetaraan antar insinyur di 10 negara Asia Tenggara.

“Sehingga insinyur dengan IPM (insinyur profesional madya) akan disetarakan dianggap sama dalam hal kompetensi dengan insinyur di ASEAN. Jadi, kemampuan kita dianggap sama. Nah, hanya saja mereka yang akan masuk ke Indonesia harus melakukan proses registrasi ke PII. Kesetaraan ini akan membuat insinyur Indonesia mudah berkompetisi.

Dia tidak menampik bahwa jumlah insinyur di dalam negeri masih kurang memadai. Saat ini, paling banyak insinyur dari bidang sipil, elektro, industri dan mesin. “Kita harus siapkan insinyur sesuai program pemerinta,” katanya.

Dalam konteks global dan nasional inilah PII harus mendefinisikan peran dan posisinya dan titik tolaknya adalah penerbitan UU Insinyur no 11 tahun 2014 yang semestinya dilanjutkan dengan penerbitan Peraturan Pemerintah tentang Keinsinyuran yang statusnya sejak setahun lalu tidak kunjung berubah dan tinggal di tanda tangan Presiden RI.

Inti sari dari UU ini adalah hanya orang yang berprofesi insinyur yang dapat melakukan praktek keinsinyuran. Hukum pidana positif berupa kurungan dan denda uang menunggu mereka yang melanggar aturan ini.

Pada saat PP diterbitkan dan ratusan ribu sarjana teknik berebut mendaftar untuk mendapatkan gelar profesi insinyur, maka sumbatan sistem registrasi dan sertifikasi PII yang masih bersifat manual akan mengakibatkan katastropi yang tak terbayangkan.

"Karena itulah program 100 hari pertama pengurus PII periode 2018 – 2021 salah satu yang akan direalisasikan adalah penerbitan PP Keinsinyuran serta pembenahan tata kelola organisasi secara menyeluruh anggaran dasar dan anggaran rumah tangga terkait dengan balai kerja dan wilayah, serta cabang," katanya.

Selain itu, PII juga akan mendorong pemerintah menyiapkan peta jalan (road map) menghadapi revolusi industri 4.0. Heru yakin, digitalisasi dunia industri akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas, demi mendongkrak perekonomian bangsa.

“Kita harus siap menerapkan industri 4.0 yang mengedepankan tekonologi mutakhir sehingga lebih efisien. Insinyur indonesia harus jadi tulang punggung transformasi industri 4.0, agar Indonesia tidak akan ketinggalan dengan negara lain,” katanya.

Tag : persatuan insinyur indonesia
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top