PEMASARAN ROTI: Bocuan Buka 50 outlet DStupid Baker Di Berbagai Kota Besar

SURABAYA—PT Bocuan Gapapa, kelompok usaha D’Cost Group, menyiapkan investasi sekitar Rp 60 miliar  untuk merealisasikan pengembangan 50 outlet D’Stupid Baker di kota-kota besar di Indonesia.
Gajah Kusumo | 19 Desember 2012 16:20 WIB

SURABAYA—PT Bocuan Gapapa, kelompok usaha D’Cost Group, menyiapkan investasi sekitar Rp 60 miliar  untuk merealisasikan pengembangan 50 outlet D’Stupid Baker di kota-kota besar di Indonesia.

D’Stupid Baker merupakan lini bisnis baru yang dikembangkan D’Cost Group dalam upaya ekspansi di sektor industri roti. Sejak dikembangkan Oktober lalu, Bocuan telah meresmikan 3 outlet di Jakarta dan Surabaya.

Presiden Direktur Bocuan Gapapa Sumi Sugeng mengungkapkan pihaknya juga akan membangun sejumlah pabrik yang memasok kebutuhan outlet. Kapasitas produksi di pabrik yang tersebar di seluruh Indonesia diperkirakan mencapai 1 juta roti per hari.

“Kapasitas produksi pabrik di Jakarta nantinya ditargetkan 10.000 roti per hari. Di Surabaya, kami belum berani mematok target produksi, karena pasar masih diraba-raba,” jelasnya pada jumpa pers di Surabaya, hari ini (19/12).

Sumi menilai pasar Jawa Timur sangat menjanjikan sebagai lumbung bisnis bakery. Pertumbuhan ekonomi Jatim hingga triwulan III/2012 telah mencapai 7,22%, melampaui torehan ekonomi nasional sebesar 6,17%.

Apalagi, ucapnya, prospek pertumbuhan kelas menengah di Surabaya sangat menggembirakan. Pertumbuhan masyarakat kelas menengah di Surabaya sekitar  6,4% pada tahun lalu, diperkirakan akan merangkak naik hingga 6,7% pada tahun depan.

Laju pertumbuhan kelas menengah berdampak langsung pada gaya hidup dan konsumsi roti. Sumi mencatat jumlah penduduk di Surabaya didominasi rentang usia 25—40 tahun dengan tingkat konsumsi yang tinggi.

Di tempat yang sama General Manager Marketing Bocuan Gapapa Eka Rachman mengatakan D’Stupid Baker berupaya menangkap potensi pasar kelas menengah dengan menawarkan konsep bisnis roti kualitas tinggi namun dibanderol dengan harga terjangkau.

“Jargonnya, mutu bintang lima, harga kaki lima. Bayangkan, harga roti di outlet kami Rp 1000—5000, jauh di bawah harga pasar,” cetusnya.

Menurut Eka, pihaknya memang mengincar pasar kelas menengah yang sangat memperhitungkan kualitas, namun masih sensitif terhadap harga. Meski harganya terjangkau, Eka menjamin kualitas produk roti sangat terjaga. (if)

Tag :
Editor : Wan Ulfa Nur Zuhra

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top