Indosat Terancam Kehilangan Orbit Satelit Palapa-E

Bisnis.com, JAKARTA—PT Indosat Tbk mengatakan pihaknya akan berdiskusi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terkait dengan pemanfaatan slot orbit 150,5 bujur timur (BT).
Thomas Mola | 02 Oktober 2013 19:42 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—PT Indosat Tbk mengatakan pihaknya akan berdiskusi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terkait dengan pemanfaatan slot orbit 150,5 bujur timur (BT).

Indosat tengah merancang Satelit Palapa-E yang akan menggunakan orbit tersebut pada 2016 nanti, sementara pihak pemerintah akan menggunakan orbit itu untuk kepentingan lebih luas.

"Ada surat masuk bahwa mungkin pemerintah ingin menjalankan sendiri. Namun, kami akan mengikuti proses yang ada. Satelitnya aja masih di udara sampai 2015. Satelit itu sudah berapa belas tahun kan, tadinya dipikir habis pada 2012, tapi secara band lebih irit jadi bisa sampai 2015. Sekarang masih ada revenue buat kita,” ujar Presiden Direktur dan COE Indosat Alexander Rusli di Jakarta, Rabu (2/10/2013).

Alexander mengatakan jika pemerintah mengambil alih slot orbit itu maka Indosat berpotensi menderita kerugian sekitar US$200 juta hingga US$250 juta dengan rincian kerugian berasal dari harga satelit dan uang muka yang telah dibayarkan.

Alexander menuturkan Indosat masih berkomitmen untuk meluncurkan satelit sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Menurutnya, Indosat akan berupaya agar proses berjalan sesuai dengan ketentuan di mana Indosat memiliki hak pada orbit itu karena masih memiliki pelanggan.

“Kita diskusikan dulu dengan pemerintah. Maka itu kita tanya ke pemerintah maksud surat itu apa. Pemerintah ada rencana utilisasi slot itu. Belum ada dateline suratnya, gosipnya begitu, perbankan yang mau pake slot yang mau ditarik itu,” ujarnya.

Alexander mengatakan surat yang dikirim pemerintah itu masih agak rancu. Saat ini slot orbit 150.5 BT masih diisi oleh satelit Palapa C2 milik Indosat. Satelit itu masih aktif dan memiliki pelanggan di mana Indosat memperoleh revenue dari biaya sewa transponder.

Hingga sejauh ini, telah talah menandatangani perjanjian awal dengan Orbital Sciences. Orbital Sciences Corporation adalah perusahaan asal Amerika Serikat yang digandeng Indosat untuk proses desain, produksi, dan peluncuran satelit Palapa-E pada 2016 nanti.

Dari total investasi untuk Satelit Palapa-E sekitar US$250 juta, Indosat telah menyiapkan dana US$50 juta, sementara sisanya berasal dari Orbital. Indosat juga telah menandatangani Memorandum Of Understanding (MoU) dengan perusahaan satelit asal jepang, SKY Perfect JSAT untuk menaikkan nilai dari slot orbit 150.5 BT. Melalui kerja sama dengan SkyPerfect JSAT, Indonesia bakal memiliki akses terhadap filling Ku-Band yang dapat memenuhi kekurangan frekuensi untuk penyiaran di Tanah Air.

Sementara itu, Kepala Pusat Komunikasi dan Humas Kominfo Gatot S. Dewabroto mengatakan surat yang dikirimkan Kominfo bertanggal 19 September 2013 kepada Direksi Indosat berisi penarikan slot orbit 150, 5BT untuk dimanfaatkan oleh negara.

“Intinya akan ditarik kepada negara untuk kepentingan lebih luas. Artinya Indosat tidak berhak,” ujar Gatot.

Gatot mengatakan slot orbit harus dikuasai negara tetapi dalam pemanfaatan dapat dipakai oleh operator telekomunikasi. Setiap mendekati batas waktu pemanfaatan orbit harus ada pemberitahuan kepada ITU, kalau tidak dilaporkan akan dimanfaatkan oleh negara orbit.

“Mereka harus konsekuen dengan batas waktu yang diatur dalam permen No.13/2007, jeda waktu beberapa tahun sebelumnya sudah harus kasih tahu. Nah, itu yang terlambat dilakukan Indosat. Ini sudah keputusan tetap legal,” tandas Gatot. 

Tag : indosat, kominfo
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top