Pelemahan Rupiah Untungkan Industri Kakao

Adanya pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp12.000/US$ membawa keuntungan bagi beberapa industri yang melakukan aktivitas ekspor, salah satunya kakao olahan.
Rio Sandy Pradana | 02 Desember 2013 01:41 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp12.000/US$ membawa keuntungan bagi beberapa industri yang melakukan aktivitas ekspor, salah satunya kakao olahan.

Ketua Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Pieter Jasman mengatakan depresiasi rupiah tersebut turut mendongkrak pendapatan eksportir. Terlebih, harga biji kakao di pasar internasional meningkat menjadi US$2.800 per ton dari kisaran US$2.400 per ton tahun lalu.

“Depresiasi rupiah hanya berpengaruh pada pendapatan perusahaan dan harga beli kakao di petani. Jika pada awal tahun hanya Rp20.000 per kilogram, saat ini bisa mencapai Rp28.000 per kilogram,” kata Pieter kepada Bisnis, Minggu (1/12/2013).

Dia menambahkan peningkatan pendapatan petani kakao dari pembelian biji yang mencapai 40% tersebut bisa menstimulasi peningkatan produksi. Hasil produksi biji kakao tersebut bisa menjadi pendorong volume ekspor kakao olahan.

Meskipun demikian, produksi biji kakao terus mengalami tren penurunan selama 3 tahun terakhir. Dalam kurun waktu 3 tahun ekspor biji kakao mengalami tren penurunan dari 432.437 ton pada 2010 menjadi 210.067 ton pada 2011. Kemudian kembali menurun menjadi 163.501 ton pada tahun lalu.

Adapun, volume ekspor kakao olahan meningkat dari 2010 sebesar 119.214 ton, naik menjadi 195.471 ton pada 2011, dan 215.791 ton pada 2012. Kondisi ini diikuti dengan jumlah industri dalam negeri yang semakin bertambah.

Pieter menuturkan nilai tukar rupiah yang beberapa terjadi sepanjang tahun ini bisa meningkatkan volume ekspor untuk tahun ini yang diprediksi bisa mencapai 400.000 ton. 

Tag : Rupiah, ekspor kakao
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top