8 Investor Tiongkok Siap Bangun Smelter Nikel di Sulsel US$4 Miliar

Investor Tiongkok paling agresif berinvestasi membangun pabrik pengolahan (smelter) di Indonesia seiring dengan implementasi Undang-Undang No.4/2009 tentang Mineral dan Batu bara.
Riendy Astria | 02 Juni 2014 17:08 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Investor Tiongkok paling agresif berinvestasi membangun pabrik pengolahan (smelter) di Indonesia seiring dengan implementasi Undang-Undang No.4/2009 tentang Mineral dan Batu bara. Terakhir, delapan investor Tiongkok siap berinvestasi smelter nikel di Bantaeng, Sulawesi Selatan, dengan investasi US$4 miliar.

Menteri Perindustrian M.S Hidayat mengatakan rencana delapan investor Tiongkok itu menunjukkan kondisi politik dan ekonomi di Indonesia tidak memengaruhi investasi. Dia menilai, investor Tiongkok paling realistis dalam menanggapi kebijakan UU Minerba.

“Sejak 5 tahun lalu, setelah adanya UU Minerba. Mereka mulai masuk ke sini bangun smelter. Saya apresiasi mereka yang berani dengan kebijakan yang menimbulkan pro kontra ini,” tutur Hidayat di Kemenperin, Senin (2/6/2014).

Selain delapan investor itu, akhir pekan lalu, Resteel Industry yang merupakan perusahaan joint venture antara perusahaan besar dari China, PT Shanxi Haixin Iron and Steel Group dengan PT Trinusa Group sudah melakukan ground breaking pabrik pengolahan baja khusus di Batam.

“Belum lagi investor-investor yang sudah melakukan perjanjian di Indoensia beberapa waktu lalu dalam pertemuan goverment to goverment Oktober tahun lalu.”

Investasi Proyek Smelter dari Tiongkok:

- Shandong Nanshan Aluminium Co. Ltd bekerja sama dengan Bintan Alumina Indonesia (BAI) investasi smelter alumina senilai US$1 Miliar dengan kapasitas sekitar 2,1, juta ton/tahun yang akan berproduksi pada 2017 atau 2018.

- Bintangdelapan Group menggandeng perusahaan manufaktur dan pertambangan asal China, Tsingshan Group siap mengucurkan investasi senilai US$5 miliar untuk pembangunan smelter dan kawasan industri terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah.

- Harita Group investasi sekitar US$1 miliar untuk pembangunan smelter grade alumina di Ketapang, Kalimantan Barat. Adapun proyek tersebut merupakan kerja sama antara China Hongqiao Group Limited (60%), dan sisanya dimiliki Winning Investment Company Limited (10%), dan Harita Group yang merupakan pengendali PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) dengan saham 30%.

- Perusahaan metalurgi baja asal China, Fuhai Group Limited siap berinvestasi hingga US$10 miliar di Indonesia.

- Perusahaan tambang nikel Bumi Makmur Selaras Group Indonesia membentuk perusahaan patungan dengan perusahaan asal China, yakni Hanking Group Ltd untuk membangun smelter nikel menjadi feronikel dengan investasi US$500 juta di Sulawesi Tenggara.

Tag : smelter
Editor :

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top