Pasar Elektronika Diramalkan Susut 18%

Pelaku usaha meramalkan pasar elektronika domestik sepanjang Tahun Kuda 2014 menciut terhadap perolehan tahun lalu.\n\n
Dini Hariyanti | 02 Oktober 2014 19:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Pelaku usaha meramalkan pasar elektronika domestik sepanjang Tahun Kuda 2014 menciut terhadap perolehan tahun lalu.

Penurunan diproyeksikan berada di atas 15% bahkan bisa mencapai 18%.

Direktur Penjualan PT LG Electronics Indonesia Budi Setiawan mengatakan penyusutan tersebut dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan upah minimum buruh, tarik ulur kebijakan soal subsidi BBM, dan lonjakan tarif dasar listrik (TDL).

"Kamipun [LG] sedang mencoba menyesuaikan antara income dengan spending. Tapi saya harap penurunan pasar ini penurunan yang sehat," ucapnya saat dihubungi Bisnis,.com, Kamis (2/10/2014).

Empat tantangan utama yang disebutkan Budi tersebut dianggap bukan sesuatu yang abnormal. Lazimnya depresiasi mata uang Garuda, kenaikan TDL, dan upah pekerja berimbas kepada lonjakan ongkos produksi.

Hal tersebut dikompensasikan melalui harga jual produk. Walhasil minat beli konsumen berkurang, sehingga volume penjualan menyusut dan perputaran bisnispun melambat.

Kondisi ini tidak hanya menimpa industri elektronika melainkan nyaris semua sektor bisnis.

Budi menyatakan pangsa pasar LG sendiri juga mengalami penurunan meski tidak signifikan.

Sejauh ini LG hanya menguasai sekitar 27% pasar domestik sedangkan periode yang sama tahun lalu mencapai 28,7%.

"Market share juga turun karena kami tidak produksi televisi tabung dan lemari es satu pintu yang cukup banyak lagi. Sebab antara harga dan profitnya sudah mepet," ucapnya.

Produsen tidak bisa menyesuaikan besaran depresiasi rupiah terhadap persentase kenaikan harga.

Dengan asumsi kurs Rp11.200 per dolar AS paling tidak harga terkoreksi 1% - 2%. Tapi kalau level Rp12.000 per dolar tersentuh selama 2 - 3 bulan harga parlu naik sedikitnya 5%.

Aspek yang tak bisa ditahan agar tidak mengganggu harga ialah soal bahan bakar minyak (BBM) yang memengaruhi biaya transportasi.

Selain itu ada pula soal kenaikan harga komponen lokal dan labour cost.

Komponen yang sensitif terhadap fluktuasi kurs adalah plastik dan baja, khususnya untuk produk kulkas.

Untuk dua hal tersebut produsen cenderung meredam dan tak meneruskan kepada kenaikan harga jual.

Sejauh ini LG merasa pemerintah terlalu fokus mengurus strategi untuk menarik investasi baru masuk ke Tanah Air.

Namun pemerintah lupa melayani kebutuhan industri yang sudah membenamkan kapital dan beroperasi agar dapat ekspansi.

"[Berikanlah] insentif atau proteksi yang penting tidak menyalahi aturan pasar bebas, mungkin bisa berupa aturan yang bersifat barrier," ucap Budi.

Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengestimasikan pasar elektronika pada 2014 bakal menghasilkan US$10,5 miliar.

Nilai ini berasal dari penjualan di dalam maupun luar negeri.

 

Tag : lg electronics, industri elektronika
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top