Penaikan Tarif Batas Atas Penerbangan Dinilai Tepat

Tarif batas atas yang akan ditetapkan Kementrian Perhubungan ditanggapi positif PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dengan melihat depresiasi rupiah yang menekan industri penerbangan.
Surya Rianto | 02 Oktober 2014 19:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Tarif batas atas yang akan ditetapkan Kementrian Perhubungan ditanggapi positif PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dengan melihat depresiasi rupiah yang menekan industri penerbangan.

Pujobroto, Kepala Komunikasi Perusahaan, mengatakan 70% biaya operasional dalam bentuk dolar AS. Sehingga denngan pelemahan hingga ke level Rp12.000 cukup menekan kinerja perseroan.

"Bila tarif batas atas dilakukan di lokasi yang padat penerbangan itu akan semakin baik, karena maskapai bisa memberikan fasilitas terbaik dan konsumen bisa memilih maskapai yang sesuai kebutuhannya," ujarnya dalam acara kerja sama Garuda Indonesia dengan PT Bank Mandiri Tbk. pada Kamis (2/10).

Dia melanjutkan kecuali kalau diterapkan di lokasi yang hanya memiliki satu maskapai. Kalau kondisinya begitu membuat peluang monopoli semakin besar.

Penaikkan tarif batas atas nantinya tidak akan dilakukan pihak maskapai di seluruh waktu. Emiten BUMN berkode GIAA itu menyebutkan hanya akan menaikkan tarif di jam utama.

"Contohnya, kalau di Surabaya, penumpang akan ramai saat pagi, maka kami akan naikkan tarif. Sementara, kalau di waktu yang sepi harganya pasti harus lebih murahlah," ujarnya.

Namun, Pujobroto mengungkapkan perseroan masih belum mampu memperkirakan efek dari penaikkan tarif batas atas kepada kinerja perseroan yang dalam kondisi tidak terlalu baik.

Pada tahun ini GIAA menargetkan pendapatan US$3,7 miliar atau Rp44,91 triliun. Sampai semester I/2014, perseroan telah meraup pendapatan senilai US$1,73 miliar atau Rp20,99 triliun dengan mencatatkan rugi bersih US$211,73 juta atau Rp2,57 triliun.

 

Tag : garuda indonesia, tiket pesawat murah
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top