LISENSI PRODUK ASING: Industri Kecil Boneka di Bekasi Minta Pemerintah Beri Fasilitas

Pelaku industri kecil menengah (IKM) mainan boneka di Bekasi berharap pemerintah turut memfasilitasi kerja sama dengan pengusaha asing guna memperoleh lisensi bagi produksi produk unggulan di pasar.
Oktaviano DB Hana | 02 November 2014 18:40 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, BEKASI - Pelaku industri kecil menengah (IKM) mainan boneka di Bekasi berharap pemerintah turut memfasilitasi kerja sama dengan pengusaha asing guna memperoleh lisensi bagi produksi produk unggulan di pasar.

Pendiri Himpunan Pengrajin Boneka Indonesia (HIPBI) Anang Sujana mengatakan, terutama dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA) pada 2015, produk mainan boneka dengan brand terkenal akan menjadi unggulan di pasar nasional. Kondisi itu, jelasnya, akan menyudutkan pelaku IKM lokl dalam persaingan di pasar.

"Misalnya seperti Hello Kitty yang sudah menjadi produk unggulan, tentunya sudah sangat familiar di pasar," jelasnya kepada Bisnis, Minggu (2/11/2014).

Karena itu, Anang berharap pemerintah dapat memfasilitasi pelaku IKM lokal dalam upaya memeroleh lisensi mainan boneka dari produsen luar negeri. Menurutnya, para pelaku IKM secara berkelompok dapat memeroleh lisensi untuk memproduksi jenis boneka unggulan untuk pasar nasional.

Dengan begitu IKM lokal tidak menjadi penonton di rumah sendiri.

“Karena lisensinya mahal, kami bisa berpatungan, misalnya 40 IKM. Jadi dengan under licence kami berproduksi mainan boneka yang familiar di masyarakat dan tidak dipermainkan oknum,” ungkapnya.

Di samping itu, pelaku IKM juga berharap pemerintah pusat dan daerah mengambil kebijakan yang mendukung peningkatan ekspansi para pelaku IKM mainan boneka. Pasalnya, saat ini mereka masih sulit memenuhi tingginya permintaan yang terus bertumbuh.

Dia menuturkan permintaan akan mainan boneka terus meninggi setiap tahun. Sedangkan, saat ini baru sekitar 10% permintaan yang bisa dipenuhi oleh para pelaku IKM.

Kuantitas pasokan tersebut meningkat dibandingkan lima tahun lalu, yakni hanya sekitar 3% dari permintaan pasar. Hal tersebut ditunjang dengan semakin bertumbuhnya IKM yang hampir mencapai 400 pelaku.

Namun, Anang menilai pertumbuhan pelaku IKM dan kuantitas produksi masih jauh dari kebutuhan pasar.

“Tiga hingga lima tahun lalu hanya puluhan dan sekarang sudah sekitar 300-400 pelaku usaha. Tapi, masih under capacity untuk produksi dibandingkan persentase pertumbuhan pasar yang kreatif,” ujarnya.

Tag : ikm
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top