Depo Peti Kemas Kosong Didesak Buka 24 Jam

Forwarder mendesak operasional depo penyimpanan peti kemas kosong (empty) di luar pelabuhan Tanjung Priok untuk beroperasi selama 24 jam guna memberikan kepastian biaya logistik.
Akhmad Mabrori | 02 Desember 2014 16:18 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Forwarder mendesak operasional depo penyimpanan peti kemas kosong (empty) di luar pelabuhan Tanjung Priok untuk  beroperasi selama 24 jam guna memberikan kepastian biaya logistik.

Sekretaris Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, Adil Karim mengatakan, sampai saat ini hanya sebagian kecil atau tidak lebih 10% pengelola depo peti kemas empty yang menjadi penopang kegiatan ekspor impor di pelabuhan Priok beroperasi 24 jam.

“Mayoritas depo empty  belum beroperasi 24 jam, kondisi ini menyulitkan forwarder karena saat hendak mengembalikan peti kemas kosong eks impor tetapi depo sudah tutup sore hari dan terpaksa trucking harus kembali pada pagi hari esoknya,” ujarnya, Selasa (2/12).

Adil mengatakan, asosiasinya juga mempersoalkan pengenaan tarif pelayanan di depo peti kemas empty yang hingga saat ini tidak melibatkan asosiasi pengguna jasa di pelabuhan Tanjung Priok.

Dia mengatakan, komponen biaya layanan di depo empty tersebut al; menaikkan dan menurunkan peti kemas atau lift on-lift off, penumpukan, pencucian /pembersihan peti kemas, juga ada biaya perbaikan peti kemas atau repair.

“Biaya-biaya itu selama ini tidak pernah transparan diberikan kepada pengguna jasa pelabuhan Priok,” ujarnya.

Adil mengatakan, asosiasinya menerima keluhan perusahaan forwarder di Pelabuhan Priok angota ALFI DKI Jakarta terhadap layanan depo peti kemas kosong yang menjadi penopang pelabuhan Priok karena tidak beroperasi 24/7 serta pedoman tarif layanannya yang tidak transparan.

Oleh sebab itu, kata dia, Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok mesti berinisiatif menformulasi ulang tarif pelayanan di depo empty dengan melibatkan seluruh stakeolders terkait di pelabuhan Priok.

“Kalau yang ada saat ini tarif pelayanan di depo empty itu sepihak saja dan liar sehingga menyebabkan ketidakpastian biaya logistik,”paparnya.

Sekretaris Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) DKI  Jakarta, Maradang Rasjid mengatakan, belum beroperasinya layanan depo selama 24 jam sehari juga menyulitkan usaha angkutan trailler.

Pasalnya, kata dia, akibat sering tidak bisa terukurnya waktu delivery yang disebabkan kemacetan di jalan raya, trailler pengangkut peti kemas kosong seringkali mengembalikan peti kemas ke depo menjelang sore dan malam hari setelah muatan di bongkar di pabrik.

“Tetapi kalau sore hari depo sudah tutup, trailler terpaksa pulang ke garasi dan kembali pagi esok harinya. Kondisi inilah yang menyebabkan kemacetan juga sudah terjadi di pagi hari karena trailler antre hendak masuk depo,” ujar Rasjid

Tag : terminal peti kemas, pelabuhan priok
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top