PROYEKSI 2015: Pasar e-Commerce Tumbuh 60%-70%

Kementerian Perindustrian mengestimasi prospek bisnis dalam industri e- commerce pada 2015 akan tumbuh signifikan, meski masih dilanda ketidakpercayaan masyarakat akibat maraknya praktik penipuan.
Sanjey Maltya | 02 Januari 2015 13:50 WIB
Meski dilanda banyak kasus penipuan. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Perindustrian mengestimasi prospek bisnis dalam industri e- commerce pada 2015 akan tumbuh signifikan, meski masih dilanda ketidakpercayaan masyarakat akibat maraknya praktik penipuan.

Ignasius Warsito, Direktur Industri Elektronika Telematika, Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi menyatakan prospek e-commerce pada 2015 cukup menjanjikan dengan pertumbuhan 60%-70%.

"Tren e-commerce di Indonesia akan tumbuh 60%-70% meski masih ada kekhawatiran konsumen terhadap praktik penipuan dalam persentase yang relatif kecil," jelasnya kepada Bisnis.com, Selasa (30/12/2014).

Menurutnya, pertumbuhan industri e-commerce didorong oleh semakin membaiknya teknologi akses serta konektivitas langsung ke konsumen. "Apalagi konsumen di masa dewasa lebih berani mencoba dan lebih konsumtif."

Ignasius menyarankan pemain dalam industri tersebut sebaiknya memperkuat branding seperti yang dilakukan produsen lokal dalam industri ponsel.

Semual Pangerapan, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menyetujui bisnis e-commerce akan tumbuh signifikan. "Hal ini karena kecenderungan penggunaan uang kartal di seluruh dunia me  nurun pesat. Kami dari industri Internet juga sudah siap," jelasnya.

Menurutnya, Bank Indonesia harus mendukung e-commerce dengan menyediakan single payment gateway. "Jangan cuma fokus kartal, sebaiknya BI harus memiliki single payment gateway untuk menghindari praktik penipuan."

Dia menjelaskan sedari 2012 lalu, APJII sudah meneriakkan usulan konstruktif mengenai single gateway ."Ini penting selain untuk menghindari penipuan juga lebih mudah melakukan penghitungan terhadap besarnya industri. Sehingga baik PPN [pajak pertambahan nilai] dan PPh [pajak penghasilan] lebih mudah diserap pemerintah."

Semuel memaparkan dengan usungan  gateway  tersendiri, kedua jenis barang dalam industri e-commerce baik bentuk fisik maupun digital, lebih mudah diidentifikasi sekaligus teratur dalam penyerapan pajak.

Salah satu pemain e- commerce, Chandra Wirawan selaku Editor in Chief JerukNipis.com, membenarkan bahwa Indonesia sebaiknya memiliki single payment gateway tersendiri.

"Lebih baik jika kita mengusung gateway tersendiri karena tak bisa dipungkiri memang ada kasus penipuan, meski potensi e-commerce makin cerah seiring dengan penerapan teknologi yang semakin canggih,» jelasnya kepada Bisnis, Selasa.

Biasanya, kata Chandra, kasus penipuan terjadi pada pemain e-commerce  yang tidak terafiliasi dengan vendor payment gate -way seperti V eritrans atau DokuP ay.

Memang, pasar bisnis e-commerce diprediksi bakal meningkat tiga kali lipat dalam dua tahun mendatang. Hal ini sejalan dengan semakin dalamnya penetrasi internet yang mengubah pola belanja masyarakat Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sempat menyatakan potensi pasar jenis ini yang disinyalir mencapai angka US$8 miliar. Sedangkan tahun depan diprediksi akan menyentuh angka US$20 miliar.

Sementara Rudy Ramawi, Country Head of Google Indonesia, mengatakan berdasarkan hasil Vela Asia Research tahun 2013, pasar bisnis e-commerce Indonesia bernilai US$8 miliar dan diprediksi akan bertumbuh 212,5% menjadi US$25 miliar pada 2016.

Sumber : Bisnis Indonesia, Jumat (2/1/2015)

Tag : e-commerce
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top