2015, Investor Garmen Dirikan Perusahaan di Semarang

Pelaku industri garmen tahun ini banyak merealisasikan investasi di kawasan industri di Kota Semarang lantaran biaya upah lebih murah dibandingkan dengan upah di Jakarta dan sekitarnya.
Muhammad Khamdi | 02 Januari 2015 21:00 WIB
Upah lebih murah. - Bisnis.com

Bisnis.com, SEMARANG—Pelaku industri garmen tahun ini banyak merealisasikan investasi di kawasan industri di Kota Semarang lantaran biaya upah lebih murah dibandingkan dengan upah di Jakarta dan sekitarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Semarang Nur Jannah mengatakan tahun ini merupakan realisasi pembangunan pabrik yang pada 2014 telah disurvei baik lokasi dan proses perizinan.

Menurutnya, pengusaha garmen berencana mengembangkan bisnis di Kota Atlas dengan alasan upah buruh lebih murah. Saat ini, tercatat ada dua investor garmen yang bersiap membangun pabrik di Kawasan Industri Wijayakusuma dengan investasi total senilai Rp100 miliar.

“Sebenarnya banyak yang tertarik ke Semarang. Namun yang terealisasi tahun ini baru ada dua perusahaan garmen. Kalau tahun ini perizinan sudah beres, ya jumlahnya bisa bertambah,” papar Nur kepada Bisnis.com, Jumat (2/1/2015).

Dia mengatakan industri garmen merupakan industri padat karya yang menyerap tenaga kerja cukup banyak. Oleh karena itu, pengusaha bisnis ini memilih upah yang lebih murah sebagai pertimbangan besar dalam mengembangkan atau mempertahankan eksistensi usahanya.

Indra Hanafi, Kepala Seksi Industri, Logam, Mesin dan Tekstil Disperindag Kota Semarang menambahkan selain industri garmen, ada pula perusahaan pembuatan air aki yang sudah merealisasikan investasinya pada 2014.

“Dalam satu perusahaan bisa menyerap tenaga kerja sekitar 2.000-an. Perusahaan garmen itu kerap kali ekspor ke Jepang dan negara lain,” ujarnya. Kendati banyak investor baru tertarik ke Semarang, Indra menyayangkan masih terdapat belasan perusahaan besar yang saat ini berada di luar kawasan industri.

Padahal , pemerintah daerah telah menerbitkan Peraturan Daerah Pemerintah Kota Semarang No 14/2011 tentang Rencana Tata dan Ruang Wilayah, yang isinya mengatur lokasi yang dijadikan sebagai kawasan industri.  Perda itu juga diperkuat dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 24/2009 tentang Kawasan Industri.

“Kami telah memberikan sosialisasi kepada pelaku usaha untuk memindahkan perusahaan ke kawasan industri. Selain itu, dari sembilan kawasan industri di Semarang masih bisa menampung perusahaan tersebut,” ujarnya.

Data Disperindag Kota Semarang menyebutkan jumlah total industri kecil, sedang dan besar di Semarang pada 2013 sebanyak 3.589. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000-an berkategori industri sedang dan besar dengan nilai investasi di atas Rp200 juta.

Ketua Himpunan Kawasan Industri atau HKI Jawa Tengah Mohammad Djajadi mengakui relokasi perusahaan dari Jabodetabake ke Jateng biasanya yang mengandalkan tenaga kerja. “Lahan di sini cukup luas. Upah buruh juga lebih murah dibandingkan Jakarta dan sekitarnya,” katanya.

Menurutnya, ada banyak pilihan lokasi kawasan industri untuk pengembangan usaha antara lain di Kabupaten Kendal, Semarang, Demak, Cilacap, Boyolali, Pekalongan dan sejumlah kota lain.

Apalagi, pemerintah mewajibkan setiap usaha harus menempati kawasan industri yang mengacu pada Undang Undang No 3/2014 tentang Perindustrian. Dalam beleid itu  tertuang bahwa masing-masing daerah diberi kewenangan untuk mendirikan kawasan industri dengan syarat setiap pendirian pabrik atau investor baru harus masuk ke dalam kawasan tersebut.

Kepala Badan Penanaman Modal Daerah atau BPMD Jateng Yuni Astuti menambahkan dari keseluruhan nilai investasi di Jateng, yang paling dominan adalah industri rokok.

Dia memaparkan indutri rokok di Jateng merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia. Jika dilihat dari jumlah investasi baru yang masuk pada 2015, kata Yuni, didominasi oleh perusahanaan tekstil dan produk tekstil.

“Investor butuh kenyamanan dan keamanan. Kalau setiap tahun ada demo buruh dan tuntutan upah naik, mereka pasti pilih daerah yang lebih murah, salah satunya ya di Jateng,” ujarnya. 

Ketertarikan para investor, kata dia, dapat diketahui dari banyaknya perusahaan saat pameran investasi bulan lalu di Jakarta. Menurut Yuni, saat ini terdapat beberapa perusahaan yang serius untuk mendirikan perusahaan di Kawasan Industri Kendal (KIK).

Tag : garmen
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top