Depresiasi Rupiah, Ini Tantangan Importir di Jawa Timur

Meskipun impor barang modal diyakini bakal membaik dalam waktu dekat, prospek bisnis pembelian barang konsumsi dan bahan baku di Jawa Timur justru diyakini lebih suram ketimbang realisasi tahun lalu.
Wike Dita Herlinda | 07 Januari 2015 17:01 WIB
Ilustrasi peti kemas - Bisnis

Bisnis.com, SURABAYA - Meskipun impor barang modal diyakini bakal membaik dalam waktu dekat, prospek bisnis pembelian barang konsumsi dan bahan baku di Jawa Timur justru diyakini lebih suram ketimbang realisasi tahun lalu.

Ketua DPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur Bambang Sukadi menyebut pelemahan rupiah yang terjun 10% dibandingkan tahun lalu, kenaikan UMR sebesar 30%, serta rencana kenaikan tarif dasar listrik sebagai rentetan masalah klasik pada 2014 yang berpeluang makin memburuk pada 2015.

“Tahun ini prospek bisnis para importir akan lebih berat, karena pada 2014 nilai rupiah masih di bawah Rp12.000/US$. Menurut importir, depresiasi pada tingkat itu masih bisa ditolerir. Namun, sekarang [rupiah] sudah anjlok lebih dari 10% [terhadap dolar AS],” tuturnya, Rabu (7/1/2015).

Dia menambahkan kinerja impor bahan baku di Jatim kemungkinan tetap bakal stabil karena produsen, bagaimanapun, membutuhkan bahan baku dari luar negeri untuk tetap beroperasi. Di sisi lain, impor barang konsumsi diyakini menurun.

Dengan kondisi demikian, sambungnya, para importir umum tengah bersiap untuk kembali menaikkan harga jual di tingkat konsumen dalam waktu dekat. Gelombang penyesuaian harga barang jadi diprediksi bakal dimulai sejak Februari.

“Barang-barang [impor] yang sekarang masih ada dibeli dengan harga dolar yang lama dan perhitungan cost yang lama. Tapi, begitu barang-barang itu habis, dan impor baru masuk, kami akan menyesuaikan harga. Apalagi permintaan di sini tinggi, padahal suplainya sedikit.”

Sebagaimana dipaparkan BPS Provinsi Jatim, nilai impor November 2014 mencapai US$1,97 miliar alias turun 12,51% dari bulan sebelumnya. Secara kumulatif, nilai impor selama Januari-November 2014 adalah US$22,62 miliar, tuurn 0,79% dari periode yang sama 2013.

Impor nonmigas November 2014 menyentuh US$1,30 miliar, turun 22,13% dari bulan sebelumnya. Adapun, impor nonmigas secara kumulatif sepanjang sebelas bulan pertama tahun lalu adalah US$16,52 miliar, turun 1,04% dibanding rentang waktu yang sama 2013.

Kepala BPS Jatim Sairi Hasbullah mengungkapkan impor nonmigas di Jatim didominasi oleh besi dan baja (US$154,84 juta), mesin dan peralatan mekanik (US$136,53 juta), plastik dan barang dari plastik (US$118,80 juta), gandum-ganduman (US$88,56 juta), serta bungkil industri makanan (US$87,33 juta).

Adapun, negara asal barang impor Jatim mayoritas didatangkan dari Tiongkok (US$355,19 juta), Amerika Serikat (US$96,69 juta), dan Thailand (US$92,92 juta). Kontribusi ketiga negara terhadap total impor provinsi beribu kota Surabaya itu mencapai 41,63%.

Tag : jawa timur
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top