Menaikkan HPP 2015 Bukan Solusi Masalah Pergulaan

Pemangku kepentingan pergulaan di Jawa Timur mengaku kenaikan harga patokan petani gula kristal putih periode 2015 bukan lagi prioritas yang akan mereka tuntut kepada pemerintah dalam mengatasi isu kelebihan stok dan kesulitan penyerapan.nn
Wike Dita Herlinda | 07 Januari 2015 16:49 WIB

Bisnis.com, SURABAYA—Pemangku kepentingan pergulaan di Jawa Timur mengaku kenaikan harga patokan petani gula kristal putih periode 2015 bukan lagi prioritas yang akan mereka tuntut kepada pemerintah dalam mengatasi isu kelebihan stok dan kesulitan penyerapan.

Pasalnya, masalah timbunan stok gula kristal putih (GKP) di Jatim—selaku kontributor 48% dari total produksi gula nasional—tidak serta merta dipicu oleh harga lelang yang lebih rendah dari harga patokan petani (HPP) senilai Rp8.500/kg.

Penasehat Senior Asosiasi Gula Indonesia (AGI) yang berbasis di Kediri Yadi Yusriadi berpendapat hal yang lebih mendesak untuk dibenahi pemerintah adalah fungsi pengawasan dan penertiban distribusi gula (baik rafinasi maupun kristal putih) sesuai segmen pasar masing-masing.

“Jadi yang penting [tahun ini] bukan [menaikkan] HPP GKP, tapi pengendalian suplai ke pasar. Berapapun nilai HPP-nya tidak selalu berbanding lurus dengan harga yang diterima petani,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (7/1/2014).

Dia mencontohkan pada 2012, ketika HPP GKP masih Rp8.100/kg, harga gula dapat mencapai lebih dari Rp10.000/kg. Sebaliknya, pada 2014, ketika HPP sudah naik menjadi Rp8.500/kg, harga lelang gula di Jawa Timur justru merosot di bawah Rp8.000/kg.

“Penumpukan stok GKP yang ada di Jawa Timur saat ini lebih disebabkan karena segmen pasar [konsumsi] sudah banyak terisi dari sumber lain. Sedangkan, harga lelang yang rendah ini hanya sebagai dampak dari produk [GKP] yang berlimpah.”

Yadi mengklaim sisa GKP di gudang pabrik-pabrik gula di Jatim diperkirakan mencapai lebih dari 1,5 juta ton, alias naik 60% dibandingkan tiga tahun yang lalu. Padahal, imbuhnya, angka produksi gula putih relatif tetap.

Dengan asumsi kenaikan jumlah penduduk sekitar 1,7% dan konsumsi per kapita yang relatif tidak bertumbuh, menurutnya, seharusnya sisa GKP di gudang pabrik-pabrik gula Jatim saat ini kurang dari 900.000 ton.

“Jadi, logikanya ada pangsa pasar GKP basis tebu sejumlah 600.000 ton yang diisi oleh gula hasil produksi pabrik rafinasi. Kalau pemerintah mau ada komitmen dan kemauan untuk menertibkan distribusi gula ini tidak akan terjadi. Selama ini fungsi pengawasannya lemah.”

Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan PTPN X M. Cholidi berpendapat harga lelang gula di Jatim yang lebih rendah dari HPP menjadi salah satu pemicu timbunan stok GKP di PG. Sebab, ketidaksesuaian harga menyebabkan banyak gula tak terjual saat lelang.

Menurutnya, kisaran harga lelang tahun lalu adalah Rp7.500—Rp7.800/kg. Pada musim giling tahun lalu, PTPN X—selaku pembuat GKP terbesar di Tanah Air—berhasil memproduksi 468.337 ton GKP dari 11 PG miliknya di Jatim, turun 0,3% dari capaian 2013.

Adapun, produksi gula sepanjang tahun ini diproyeksi mencapai 1,4 juta ton.  “Serapan gula di pasar [pada 2014] tidak sesuai harapan, masih banyak yang menumpuk di gudang. Belum lagi ada kebijakan pemembukaan keran impor gula mentah [untuk rafinasi].”

Tag : hpp gula, industri gula
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top