Bagi Hasil Dikurangi, BEP Harus Diperpanjang

Forum Industri Pengguna Gas Bumi menilai guna menurunkan harga gas secara signifikan, selain mengurangi bagi hasil pemerintah, negara harus mengatur masa waktu pengembalian ongkos produksi.
Muhammad Abdi Amna | 12 September 2015 01:24 WIB
Blok migas - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Forum Industri Pengguna Gas Bumi menilai guna menurunkan harga gas secara signifikan, selain mengurangi bagi hasil pemerintah, negara harus mengatur masa waktu pengembalian ongkos produksi.

Achmad Safiun, Ketua Umum Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB), mengatakan sejumlah kebijakan tersebut jika ditambah dengan efisiensi distribusi gas bumi dapat menurunkan harga gas pipa hingga menjadi US$5 per million metric british thermal unit (MMbtu).

"Selain itu slope [ kemiringan menentukan harga gas] yang saat ini berkisar di 11% - 13% dapat diturunkan lagi menjadi 8%. Untuk menurunkan harga LNG, harga ICP [Indonesian Crude Price] yang saat ini masih tinggi perlu diturunkan juga," tuturnya kepada Bisnis,Kamis (10/9/2015).

Jika harga ICP diturunkan, lanjutnya, maka harga Liquefied Natural Gas (LNG) di dalam negeri dapat menjadi US$7 per MMbtu. Selain itu, pemerintah juga dapat memperpanjang masa pengembalian nilai investasi dari saat ini tiga tahun.

"Saat ini masa pengembalian investasi ditetapkan tiga tahun, akibatnya harga gas ikut terkerek untuk menyesuaikan target tersebut. Padahal, sumur masih beroperasi hingga 20 tahun. Maka kami minta masa BEP diperpanjang," katanya.

Saat ini, lanjutnya, akibat harga gas industri yang tinggi, sejumlah anggota FIPGB telah merumahkan tenaga kerja akibat tidak mampu bersaing dengan produk luar negeri. Di tengah perlambatan ekonomi global, daya beli konsumen domestik yang tertekan memperparah kondisi industri.

Jika penurunan harga gas dilakukan dalam waktu dekat, secara signifikan industri dalam negeri dapat meningkatkan produksi guna mempersiapkan lonjakan permintaan ketika pasar kembali stabil. Dengan demikian, serapan tenaga kerja kembali meningkat dan daya beli masyarakat ikut menguat.

Haris Munandar N., Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian, mengatakan tidak hanya menurunkan harga gas, tetapi pemerintah juga harus menjaga alokasi dan pasokan gas kepada industri dengan stabil.

"Jika pasokan gas tidak stabil, maka aktivitas industri terganggu, baik yang menggunakannya sebagai energi maupun bahan baku. Sebenarnya, harga gas murni di sumur hanya US$3 namun karena biaya tambahan harga di konsumen menjadi US$9, menurut kami harga ideal adalah US$7 per MMbtu," katanya.

Tag : gas bumi
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top