Sensitif Upah, Industri Padat Karya Akan Leyap Dari Jawa Barat?

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani mengatakan faktor utama turunya investasi industri padat karya akibat belum patuhnya pemerintah daerah pada peraturan pemerintah tentang pengupahan.
Muhammad Abdi Amna | 22 Januari 2016 07:33 WIB
Pekerja pabrik menyelesaikan proses produksi sepatu. - Ilustrasi/Bisnis.com/WD

Bisnis.com, JAKARTA—Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani mengatakan faktor utama turunya investasi industri padat karya akibat belum patuhnya pemerintah daerah pada peraturan pemerintah tentang pengupahan.

“Kantong utama padat karya itu Jawa Barat, sementara mereka yang paling tidak kondusif. Dalam penetapan upah mereka membuat skema upah kelompok yang tidak ada dalam peraturan pemerintah pusat. Akibatnya industri banyak yang relokasi,” ujarnya.

Industri padat karya yang sangat sensitif dengan besaran upah, lanjutnya, diprediksi akan hilang dari Jawa Barat, jika produktivitas tenaga kerja tidak mengimbangi besaran upah. Industri padat karya di wilayah ini telah menyatakan akan relokasi ke Jawa Tengah.

Apalagi, lanjutnya, secara nasional produktivitas tenaga kerja Indonesia kalah jauh dengan Vietnam yang bekerja 48 jam per minggu atau selama enam hari penuh. Sementara tenaga kerja Indonesia hanya bekerja 40 jam per minggu dengan upah yang hampir sama dengan Vietnam.

“Kalau Laos, Myanmar tidak bisa kita bandingkan dengan Indonesia, tetapi dengan Vietnam kita sudah kalah per unit cost. Produktivitas Vietnam sangat tinggi dengan output yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi 2015 mencapai Rp545,4 triliun, lebih tinggi dari target yang ditetapkan senilai Rp519,5 triliun. Peningkatan ini didorong oleh hampir seluruh sektor, kecuali sektor padat karya  yang turun 12%.

Tag : industri, padat karya
Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top