Masalah Ini Picu Produksi Manufaktur di Sumsel Menyusut

Pertumbuhan produksi sejumlah industri manufaktur di Sumatra Selatan tercatat menurun karena persoalan bahan baku.
Dinda Wulandari | 02 Agustus 2016 01:41 WIB
Industri kertas - Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, PALEMBANG – Pertumbuhan produksi sejumlah industri manufaktur di Sumatra Selatan tercatat menurun karena persoalan bahan baku.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel industri yang pertumbuhannya turun karena masalah bahan baku adalah industri mikro kecil kulit, barang dari kulit dan alas kaki.

Kepala BPS Sumsel Yos Rusdiansyah mengatakan pertumbuhan negatif suatu industri bisa juga disebabkan oleh meningkatnya harga bahan baku.

“Kondisi itu terjadi di industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki yang turun karena meningkatnya harga bahan baku kulit sehingga penggiat industri ini mengurangi produksinya,” ujarnya, Senin (1/8/2016).

Dia melanjutkan persoalan bahan baku juga dihadapi industri manufaktur besar sedang (IBS), yakni industri kertas dan barang dari kertas. Yos mengatakan pertumbuhan industri kertas di Sumsel itu menjadi terlambat karena kelangkaan bahan baku.

“Kelangkaan dan kenaikan harga bahan baku sebetulnya sudah terjadi selama Triwulan I/2016 namun secara umum sudah membaik sehingga kegiatan produksi IBS kembali berjalan normal,” katanya.

Dia menambahkan pihaknya juga mencatat ada pula industri yang pertumbuhan produksinya menurun, yakni industri minuman dengan pertumbuhan hanya -11,49%.

Sebagai perbandingan, industri ini juga merupakan industri dengan pertumbuhan terendah pada triwulan sebelumnya, yaitu -4,87%.

Menurut Yos, penurunan itu disebabkan sebagian besar oleh penurunan pertumbuhan industri jamu tradisional yang ada di beberapa wilayah di Sumsel.

Secara umum, pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro kecil atau IMK di Sumatra Selatan pada triwulan II/2016 naik menjadi 4,10% atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Yos mengatakan kenaikan pertumbuhan produksi itu disebabkan oleh beralihnya kembali petani berprofesi ganda. “Mereka [petani] kembali lagi ke sektor industri mikro dan kecil sambil menunggu masa panen selanjutnya pada triwulan III,” katanya.

Yos mengemukakan petani tersebut biasanya menggeluti usaha industri batu bata dan gerinda, seperti yang ada di Kabupaten Lahat dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.

Tag : manufaktur
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top