Investasi Meningkat, Pebisnis Ingin Perbaikan Industri Transportasi

Pelaku usaha memandang realisasi investasi di triwulan kedua pada 2016 khususnya di sektor transportasi mengalami peningkatan meskipun dampaknya belum optimal terhadap perbaikan industri dan monopoli pasar.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 02 Agustus 2016 01:41 WIB
Sektor transportasi - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha memandang realisasi investasi di triwulan II/2016 khususnya di sektor transportasi mengalami peningkatan meskipun dampaknya belum optimal terhadap perbaikan industri dan monopoli pasar.

Berdasarkan data realisasi investasi triwulan II/2016 yang dirilis oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) untuk sektor industri alat angkutan dan transportasi lainnya hanya Rp35,54 miliar dengan total 32 proyek.

Sementara itu, untuk PMA sektor sejenis tercatat meraih investasi yang cukup tinggi yakni Rp475,4 miliar dengan total 325 proyek.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi menyatakan untuk realisasi investasi di sektor transportasi terbilang cukup tinggi meski tak signifikan. Hal ini karena banyaknya proyek pembangunan infrastruktur logistik seperti pelabuhan dan bandar udara.

“Menurut pendapat saya secara garis investasi di bidang logistik dan transportasi lima tahun ini mengalami kenaikkan yang sangat besar, apakah itu masuk dari sektor swasta yaitu nasional atau PMA mapun BUMN,” ungkap Yukki kepada Bisnis, Senin (1/8/2016).

Meskipun demikian Yukki menyatakan, satu-satunya sektor transportasi yang mengalami penurunan adalah angkutan darat, dalam hal ini adalah truk. Menurut Yukki, hal itu disebabkan oleh kondisi perekonomian dalam negeri yang cenderung tidak stabil.

“Untuk moda transportasi yang mengalami kenaikkan itu khususnya kapal laut. Hanya investasi di angkutan darat [truk] yang mengalami penurunan karena seiring dengan situasi kondisi ekonomi yang mengalami penurunan,” kata Yukki.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia Gemilang Taringan juga menyatakan industri otomotif truk memang melesu akibat menurunnya perekonomian dalam negeri. Gemilang mengatakan selama ini pelaku usaha mendapatkan suplai truk baik dari produk dalam negeri maupun luar negeri.

Menurutnya industri ini masih minim karena pelaku usaha dalam negeri yang bisa memproduksi angkutan darat sangat sedikit. “Ini karena masih sedikitnya industri dalam negeri yang memproduksi alat berat,” ungkap Gemilang.

Tag : transportasi
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top