Ekspor Industri Pengolahan Anjlok

Ekspor manufaktur Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2016 yang sebanyak US$60,86 miliar menjadi yang terendah sejak 2010 karena daya saing industri dalam negeri menurun.
Fauzul Muna | 19 Agustus 2016 08:36 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Ekspor manufaktur Indonesia sepanjang Januari hingga Juli 2016 yang sebanyak US$60,86 miliar menjadi yang terendah sejak 2010 karena daya saing industri dalam negeri menurun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan nilai ekspor industri pengolahan sepanjang Januari hingga Juli 2016 sebesar US$60,86 miliar. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam enam tahun terakhir atau sejak 2010. Pada 2010, kinerja ekspor manufaktur nasional sebesar US$52,30 miliar.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dzulfian Syafrian mengatakan salah satu penyebab utama ekspor industri pengolahan terus menurun karena daya saing industri nasional melemah. Indonesia kalah saing dengan negara lain seperti Vietnam, Bangladesh, Pakistan.

“Biaya produksi di sana lebih rendah dibandingkan kita,” katanya kepadaBisnis, Kamis (18/8/2016). Dia meminta pemerintah memberikan insentif langsung untuk menggenjot industri pengolahan. Insentif yang bisa diberikan antara lain keringanan pajak dan penurunan sewa pabrik.

Selain itu, pemerintah harus menjamin ketersediaan pasokan untuk menyokong proses produksi seperti bahan baku, energi, listrik, dan kualitas tenaga kerja. Jika tidak ada reformasi dari sisi pasokan (supply), lanjutnya, pengusaha akan memindahkan pabrik ke negara yang menyediakan insentif lebih baik. “Apalagi di era globalisasi dan perdagangan bebas seperti saat ini,memindahkan pabrik ke negara lain jadi jauh lebih mudah.

Kinerja ekspor manufaktur yang rendah menyebabkan nilai ekspor nonmigas ikut tergerus. Nilai ekspor sepanjang Januari hingga Juli 2016 yang hanya US$71,585 juga menjadi yang terendah sejak 2010. Pada 2010, nilai ekspor nonmigas mencapai US$69,96 miliar.

Ekonom Senior Kenta Institute Eric Alexander Sugandi menilai penurunan ekspor nonmigas terjadi karena permintaan global sedang lemah karena pertumbuhan ekonomi yang melambat. Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan di semester I/2016 juga menaikkan biaya produksi dari kenaikan biaya komponen impor.

Dalam rangka menaikkan ekspor, dia mendorong pemerintah untuk segera mengimplementasikan paket-paket kebijakan ekonomi yang berkaitan dengan deregulasi dan insentif ekspor. “Pemerintah juga harus bekerja sama dengan BI [Bank Indonesia] untuk menjaga rupiah.

Tag : ekspor, industri pengolahan
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top