Pelajari Temuan Terbaru, Pengusaha Pembasmi Hama Kumpul di Singapura

Para pelaku industri pengendalian hama di dunia tengah berkumpul di Singapura untuk mempelajari temuan atau penelitian terbaru dalam membasmi vektor penyakit dan penularan penyakit yang disebabkan dari binatang.
Newswire | 21 Agustus 2016 04:52 WIB
Pemberantasan hama penyakit DBD - Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Para pelaku industri pengendalian hama di dunia tengah berkumpul di Singapura untuk mempelajari temuan atau penelitian terbaru dalam membasmi vektor penyakit dan penularan penyakit yang disebabkan dari binatang.

"Kami akan memperbarui informasi yang perlu kita ketahui dari para ahli di lapangan, termasuk teknologi dan pengalaman yang relevan untuk kita dapat implementasikan di Indonesia," kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia (ASPPHAMI) Boyke Arie Pahlevi melalui keterangan tertulis, Sabtu (20/8/2016).

ASPPHAMI bersama dengan Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Singapore (SPMA), Malaysia (PCAM), Philippines (PCAP), dan Thailand (TPMA) menyelenggarakan Pest Summit 2016 pada 18-20 Agustus 2016 tentang Manajemen Pengendalian Hama dengan Inovasi dan Teknologi Ramah Lingkungan.

Boyke memaparkan saat ini permasalahan penyakit menular yang disebabkan oleh vektor penyakit di Indonesia masih sangat tinggi, baik itu yang disebabkan oleh nyamuk, tikus, kecoa, dan lalat.

Dia menyebutkan salah satu yang perlu diperhatikan adalah terkait dengan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular demam berdarah dengue (DBD) yang sampai saat ini masih saja terjadi sejak 1968.

Menurut dia, saat ini pemahaman dan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya pengendalian hama masih sangat minim.

Di sisi lain, pengguna jasa pengendalian hama di Indonesia masih didominasi sektor swasta dan kantor pemerintah pusat yang berkisar mencapai 90% mencakup hotel, apartemen, rumah sakit, gedung perkantoran, restoran, pengembang (developer), kantor pemerintah pusat, kementerian dan lainnya.

Sementara itu, untuk sektor rumah tangga dan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota jarang sekali menggunakan jasa pengendalian hama dan hanya berkisar 5%-10%.

"Padahal, di sinilah persentase paling tinggi penularan vektor penyakit DBD, terutama di lingkungan pemukiman masyarakat," ujar Boyke.

Dia  menjelaskan perkembangan industri pengendalian hama saat ini sudah cukup baik karena pelaku usaha sudah menjalankan metode pengendalian hama terkini yang disebut dengan "Integrated Pest Management".

Metode tersebut mengedepankan pengendalian hama secara terpadu dengan penggunaan pestisida sebagai alternatif terakhir.

Sumber : Antara

Tag : hama
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top