Pembatasan Ekspor Karet Tidak Berdampak pada Petani

Kebijakan pemerintah untuk mengendalikan ekspor karet guna mengerek harga komoditas itu tidak berdampak sebanding pada petani. Hingga saat ini, harga karet di tingkat petani masih berada di bawah harga pokok produksinya.
Dara Aziliya | 25 Agustus 2016 19:20 WIB
Karet Alam

Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan pemerintah untuk mengendalikan ekspor karet guna mengerek harga komoditas itu tidak berdampak sebanding pada petani. Hingga saat ini, harga karet di tingkat petani masih berada di bawah harga pokok produksinya.


Ketua Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Lukman Zakaria mengatakan, saat ini harga rata-rata karet per kilogram di tingkat petani sekitar Rp4.000-Rp7.000. Menurutnya, harga karet seharusnya berada di level Rp12.000.


“Pengendalian ekspor karet itu tidak berdampak apa-apa pada petani. Harga di sini tetap saja rendah dan banyak petani yang sudah menngonversikan lahan karet mereka karena karet sudah tidak menguntungkan,” kata Lukman saat dihubungi Bisnis, Kamis (25/8).


Lukman menambahkan pemerintah hendaknya mempercepat program-program hilirisasi karet di dalam negeri sehingga dapat menopang penyerapan karet di tingkat petani. Dengan demikian, diharapkan harga karet di tingkat petani pun ikut terkerek.


Sebagaimana diketahui, Kementerian Perdagangan memutuskan memperpanjang pembatasan ekspor karet alam hingga Desember 2016. Pembatasan ekspor karet dilakukan oleh Indonesia, Thailand, dan Malaysia melalui skema Agreed Export Tonnage Scheme (AETS).

Pembatasan ekspor diperpanjang untuk menalangi alokasi Vietnam sebesar 85.000 ton. Negara itutidak melaksanakan pengendalian ekspor sesuai kesepakatan AETS yang ditandatangani per Februari lalu.

Adapun, Kemendag menilai pengendalian ekspor karet juga berhasil mengerek harga komoditas itu yang sempat terpuruk di pasar global.

Tag : karet, ekspor karet
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top