SEKTOR RITEL: Dominasi Belanja Konsumen, Generasi Millennial Mulai Disebut. Siapa Mereka?

Generasi millennial digadang-gadang akan menjadi penopang sektor perdagangan masa depan, khususnya barang konsumsi. Generasi millennial ibarat kunci untuk menguasai pasar di masa yang akan datang
Lingga Sukatma Wiangga | 27 September 2016 14:01 WIB
Ilustrasi. - .

Bisnis.com, JAKARTA- Generasi millennial digadang-gadang akan menjadi penopang sektor perdagangan masa depan, khususnya barang konsumsi. Generasi millennial ibarat kunci untuk menguasai pasar di masa yang akan datang.

Ditemui di ajang Millennial 20/20 Summit di Singapura pada pekan kedua September 2016, Senior Managing Director Global Lead Consumer Industries Accenture Consulting Teo Correia menyebut generasi millennial bukan sekadar kelompok berdasarkan demografi.

Lebih dalam dari itu, generasi millennial adalah pola pikir. Generasi ini dapat digambarkan sebagai yang paling ‘terkoneksi’ di dunia. Hal ini tak terlepas dari perkembangan teknologi yang melekat dalam DNA generasi millennial, seperti media sosial.

Di sisi lain, mentalitas teknologi generasi millennial tersebut saat ini telah mendorong pebisnis untuk mendefinisikan kembali cara mereka berinteraksi dan terlibat dengan konsumen. Agar bisnis berjalan sukses, harus beradaptasi dan berinovasi agar tetap relevan di pasar.

Teo mengatakan generasi millennial adalah pasar masa depan. Hal itu berdasarkan penelitian pihaknya yang menyatakan 45% dari populasi di Asia Pacific saat ini adalah generasi millennial. Jika dilihat secara global, 60% dari populasi dunia pada 2020 adalah generasi millennial yang mayoritasnya diprediksi akan berdomisili di Asia.

Generasi millennial di Asia bahkan diperkirakan pihaknya akan memiliki daya beli lebih dari generasi sebelumnya, dengan potensi disposable income mencapai US$6 triliun pada 2020.

“Generasi ini akan sangat signifikan untuk industri. Mereka global dan independen serta saling terhubung satu dengan yang lain dan saling berbagi,” ujarnya saat sesi wawancara khusus dengan rombongan wartawan dari Indonesia.

Riset Accenture pun menyebut, 40% dari generasi millennial pernah berbelanja melalui ponsel cerdas mereka. Hal ini tak terlepas dari kecenderungan generasi millennial dalam menggunakan ponsel cerdas tersebut, yang jika dirata-ratakan mencapai 2,8 jam per hari.

Kolega Teo yakni Simon Eaves selaku Senior Managing Director Products Digital Consumer Lead Accenture Consulting mengamini jika potensi pasar dari generasi millennial begitu besar. Menurutnya, generasi ini identik dengan keinginan atas kemudahaan melalui teknologi digital.

Oleh sebab itu, menurutnya, para pebisnis baik di sektor perdagangan maupun jasa sangat perlu dalam memanfatkan perkembangan teknologi digital. Bahkan dia menyebut, hal itu tidak hanya perlu bagi bisnis yang sudah besar namun juga bagi usaha rintisan.

Dia meyakini, hal tersebut kelak akan mempengaruhi cara masyarakat modern dalam bertransaksi.

“Generasi millennial cenderung menginginkan kemudahan dengan teknologi digital,” ujarnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Accenture memandang pelaku bisnis di bumi Nusantara sudah sadar akan potensi pasar generasi millennial. Dari catatan Accenture, peluang transformasi digital di Tanah Air sangat besar.

Secara umum, sebanyak 57% perusahaan saat ini melakukan investasi teknologi mobile. Persentase itu menigkat dari tahun lalu yang sekitar 49%. Accenture pun memperkirakan sekitar 44% perusahaan akan berinvestasi pada Internet of Things (IoT) pada 2016. Jumlah itu naik cukup signifikan jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya sekitar 25%.

Di sisi lain, selain sadar melakukan pengembangan digital, untuk meraih konsumen lebih banyak pelaku usaha perlu aware dengan karakteristik dari generasi tersebut. Setidaknya, dari riset Accenture ada 10 karakteristik unik dari konsumen yang akan mendominasi pasar global tersebut.

Pertama, generasi millennial cenderung memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap sebuah produk. Hal ini memberikan tantangan bagi pebisnis bagaimana cara memuaskan hasrat tersebut.

Kedua, generasi millennial cenderung memiliki tingkat kesadaran yang tinggi dalam berbelanja. Berbelanja diekspresikan sebagai sebuah misi yang memiliki nilai dan keyakinan  Misalnya, bagaimana pengaruh sebuah merek terhadap kondisi lingkungan dan sosial tertentu.

Ketiga, generasi millennial memandang berbelanja sebagai ‘kendaraan’ untuk terhubung dan berkolaborasi dengan orang lain. Keempat, generasi ini senang dengan nuansa luxury yaitu pada layanan dan pengalaman yang membuat pelanggan merasa istimewa.

Kelima, generasi ini cenderung menyederhanakan dan menyimpan waktu agar bisa fokus pada apa yang paling dianggap penting. Sehingga, berbelanja haruslah cepat dan mudah. Berikutnya, generasi millennial lebih kreatif.

Konsumen pada generasi ini cenderung selalu ingin berinteraski guna menciptakan produk yang ideal untuk mereka. Ketujuh, konsumen pada generasi millennial cenderung ingiin lebih dipahami dengan layanan terbaik. Misalnya, adanya personalisasi pada produk yang diinginkan.

Berikutnya, karakteristik konsumen generasi millennial adalah ingin dijaga hak privasinya. Hal itu terkait dengan kesadaran generasi millennial akan risiko keamanan data pada era digital. Terakhir, generasi ini lebih sadar akan gaya hidup sehat.

“Hal-hal tersebut bisa menjadi acuan dalam menangkap peluang pada generasi millennial,” ujar Teo.

Tag : perdagangan
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top