Permintaan Meningkat, Pandawa Agri Tingkatkan Kapasitas Produksi Ajuvan

Perusahaan berbasis produk oleochemical input pertanian, PT Pandawa Agri Indonesia berencana meningkatkan kapasitas produksi produk ajuvan, merespons permintaan pasar yang kian meningkat pada 2017 mendatang.
Dara Aziliya | 04 Desember 2016 16:38 WIB
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan berbasis produk oleochemical input pertanian, PT Pandawa Agri Indonesia berencana meningkatkan kapasitas produksi produk ajuvan, merespons permintaan pasar yang kian meningkat pada 2017 mendatang.

Ajuvan adalah senyawa yang biasanya berbentuk cair yang digunakan dalam pengolahan untuk meningkatkan efisiensi fungsional berbagai bahan. Petani dan perusahaan sawit pada umumnya menggunakan ajuvan untuk mengefektifkan penggunaan pestisida.

Direktur Eksekutif Pandawa Agri Kukuh Roxa menyampaikan perusahaan tersebut memproduksi ajuvan berbahan dasar hayati sehingga tidak merusak tanaman. Selain itu, pengunaan ajuvan Pandawa Agri pun menekan dosis pestisida berbahaya hingga 50%.

“Pada 2014 kami masukkan produk ini ke perusahaan kecil-menengah sawit, 2015 kami sasar perusahaan besar bahkan multinasional. Selama 2015-2016, omzet kami hanya naik 2 kali lipat, tapi untuk 2017, kami sudah dapat kontrak yang bilainya 5 kali lipat omzet kami sekarang,” jelas Kukuh di Jakarta, Minggu (4/12/2016).

Dia menjelaskan dengan diraihnya kontrak penjualan tersebut, pihaknya pun telah menjajaki sumber pembiayaan dari sejumlah investor sejak tahun lalu sehingga kini perusahaan telah siap membangun pabrik baru yang berlokasi di Banyuwangi.

Pandawa Agri saat ini telah memiliki pabrik ajuvan dengan kapasitas produksi sebesar 300.000 liter per tahun. Menurut Kukuh, pembangunan pabrik baru juga dijalankan di Banyuwangi karena daerah tersebut kaya akan bahan baku.

Sebagai catatan, pemain ajuvan di Tanah Air sebenarnya telah cukup banyak. Kendati demikian, penggunaannya belum berorientasi pada menekan efisiensi perusahaan dan bahan bakunya pun masih merupakan bahan kimia yang menganggu kesuburan tanah.

Tag : agribisnis, pestisida
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top