Infeksi Ransomware Melonjak, Pengakses Internet Diminta Waspada

Vendor pengamanan IT global Avast menyatakan infeksi malware ransomware mengalami peningkatan yang signifikan yaitu mencapai 105% pada 2015-2016 sejalan dengan kurangnya kesadaran pengguna Internet terhadap keamanan IT.
Sholahuddin Al Ayyubi | 11 Januari 2017 18:33 WIB
Ilustrasi Malware - Antara

BIsnis.com, JAKARTA - Vendor pengamanan IT global Avast menyatakan infeksi malware ransomware mengalami peningkatan yang signifikan yaitu mencapai 105% pada 2015-2016 sejalan dengan kurangnya kesadaran pengguna Internet terhadap keamanan IT.

Vince Steckler, Chief Executive Officer (CEO) Avast, memprediksi tahun ini akan semakin banyak celah keamanan perangkat yang berpotensi disusupi oleh malware dan berkembang sejalan dengan semakin meningkatnya infeksi ransomware dan inside hacking yang ditemukan oleh Avast pada tahun lalu.

“Kita sekarang ada di zaman dimana kita lebih banyak terkoneksi melalui berbagai device. Keamanan harus menjadi kesadaran penting bagi setiap orang,” tuturnya di Jakarta, Rabu (11/1/2017).

Menurutnya, teknologi smart file scanner berbasis cloud dinilai dapat menjadi solusi bagi pengguna Internet untuk mengantisipasi serangan malware ransomware secara real-time. Dia menjelaskan Avast dan AVG kini tengah mengembangkan produk yang dapat mengantisipasi ransomware secara real-time untuk melindungi pengguna.

“Kami mengembangkan produk yang dapat melindungi pengguna dari ancaman virus dan malware termasuk ransomware, termasuk mencegah aksi hacking, mengamankan website dan aktivitas e-mail, sehingga data pribadi tetap aman,” katanya.

Selain itu, dia juga tengah berencana memperkenalkan tiga solusi keamanan yaitu AVG AntiVirus FREE, AVG Internet Security dan AVG TuneUp yang rencananya akan dilepas ke pasar Indonesia tahun ini. Menurutnya, AVG TuneUp merupakan seri tertinggi yang dinilai dapat mengamankan perangkat pengguna dari infeksi malware ransomware.

“AVG TuneUp akan dibekali dengan fitur baru Software Updater. Jadi nanti pengguna dapat menghilangkan celah keamanan, memperbaiki bug dan menambah fitur baru,” ujarnya.

Steckler menilai ancaman siber dewasa ini telah membuat pengguna harus lebih waspada dan melindungi berbagai perangkatnya dari serangan hacker. Sejumlah malware yang diprediksi akan berkembang tahun ini di antaranya adalah spyware, ransomware, rootkits, Trojan dan malware berbahaya lainnya.

“Melalui produk kami, pengguna dapat menikmati perlindungan dengan menggunakan artificial intelligence terdepan dan real-time analysis,” tukasnya.

Tag : virus komputer, teknologi informasi, virus
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top